Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

GWM Rata-rata, Volatilitas Suku Bunga, dan Pendalaman Pasar Uang

Kompas.com - 22/08/2017, 21:13 WIB
EditorMuhammad Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Penerapan Giro Wajib Minimum (GWM) primer rata-rata (averaging) bertujuan untuk mengurangi volatilitas suku bunga dan mendorong pendalaman pasar uang.

Dalam jangka panjang, penerapan GWM primer averaging akan ikut berperan menciptakan kondisi moneter yang lebih stabil sebagai landasan bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. 

Bank Indonesia (BI) mulai meninggalkan rezim GWM primer tetap (fixed) dan sebagai gantinya mulai 1 Juli 2017, BI menerapkan GWM primer averaging secara parsial. Rasio GWM primer tetap sebesar 6,5 persen dari dana pihak ketiga (DPK).

Namun dalam pemenuhannya, hanya 5 persen GWM yang bersifat fixed atau harus dipenuhi setiap hari. Adapun 1,5 persen lainnya bisa dipenuhi secara rata-rata dalam dua minggu. Artinya, dalam satu hari bank bisa saja hanya memenuhi GWM hanya 5 persen asalkan dalam periode dua minggu, rata-rata GWM-nya tetap 6,5 persen.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, selama rezim GWM fixed, suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) kerap bergejolak.

Itu karena bank kurang leluasa mengatur likuiditasnya mengingat bank harus memenuhi kewajiban GWM sebesar 6,5 persen fixed setiap hari.

Tingginya suku bunga PUAB tentu akan meningkatkan biaya dana (cost of borrowing) bank yang pada gilirannya akan dikompensasi bank dengan menaikkan suku bunga kredit.

Dengan penerapan GWM averaging, volatilitas suku bunga bisa dikurangi. Sebab, bank lebih leluasa mengatur likuiditasnya seiring tak ada lagi kewajiban memenuhi GWM 6,5 persen setiap hari.

Menurut Group Head Treasury Bank Mandiri Farida, jika likuiditas sedang ketat dan suku bunga PUAB sedang tinggi, bank tidak akan memaksakan diri untuk tetap meminjam dana guna memenuhi kewajiban GWM 6,5 persen. Bank tersebut bisa meminjam di lain hari saat kondisi likuiditas tak lagi ketat dan suku bunga PUAB tidak sedang tinggi.

Dampaknya, suku bunga PUAB akan relative stabil sehingga biaya dana bank akan bisa ditekan. Ujungnya, suku bunga kredit bisa tetap landai.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Indeks Persepsi Korupsi RI Menurun, Kepala Bappenas: Ini Alarm bagi Kita Semua

Indeks Persepsi Korupsi RI Menurun, Kepala Bappenas: Ini Alarm bagi Kita Semua

Whats New
Selain ASN, TNI dan Polri Kini Wajib Lapor Harta Kekayaan

Selain ASN, TNI dan Polri Kini Wajib Lapor Harta Kekayaan

Whats New
Ada MinyaKita, Omzet Produsen Minyak Goreng Premium Turun Drastis

Ada MinyaKita, Omzet Produsen Minyak Goreng Premium Turun Drastis

Whats New
Temukan 500 Ton MinyaKita Belum Didistribusikan, Mendag Zulhas Minta Segera Disebar ke Pasar di Wilayah Jawa

Temukan 500 Ton MinyaKita Belum Didistribusikan, Mendag Zulhas Minta Segera Disebar ke Pasar di Wilayah Jawa

Whats New
Pemerintah akan Tarik Utang Rp 696,4 Triliun di 2023

Pemerintah akan Tarik Utang Rp 696,4 Triliun di 2023

Whats New
Disinggung Jokowi soal Pendanaan Smelter, Bos BCA: Pembangunannya Membutuhkan Dana Besar

Disinggung Jokowi soal Pendanaan Smelter, Bos BCA: Pembangunannya Membutuhkan Dana Besar

Whats New
Harga Bitcoin dan Ethereum Menguat Lebih dari 30 Persen sejak Awal 2023

Harga Bitcoin dan Ethereum Menguat Lebih dari 30 Persen sejak Awal 2023

Whats New
Menteri PPN: RI Butuh Waktu 22 Tahun untuk Jadi Negara Berpendapatan Tinggi

Menteri PPN: RI Butuh Waktu 22 Tahun untuk Jadi Negara Berpendapatan Tinggi

Whats New
Mendag Zulhas Minta Satgas Pangan Tindaklanjuti Temuan 500 Ton yang Tak Disalurkan

Mendag Zulhas Minta Satgas Pangan Tindaklanjuti Temuan 500 Ton yang Tak Disalurkan

Whats New
Strategi Luhut untuk Atasi Kelangkaan Minyakita

Strategi Luhut untuk Atasi Kelangkaan Minyakita

Whats New
Ekonomi RI Tumbuh 5,31 Persen, Sri Mulyani: Jadi Titik Terang di Tengah Guncangan Global

Ekonomi RI Tumbuh 5,31 Persen, Sri Mulyani: Jadi Titik Terang di Tengah Guncangan Global

Whats New
Jokowi: Pemerintah akan Terus Kejar dan Sita Aset Obligor BLBI yang Tidak Kooperatif

Jokowi: Pemerintah akan Terus Kejar dan Sita Aset Obligor BLBI yang Tidak Kooperatif

Whats New
Startup CoHive Resmi Tutup, Pandemi Berkepanjangan sampai Pendanaan jadi Penyebabnya

Startup CoHive Resmi Tutup, Pandemi Berkepanjangan sampai Pendanaan jadi Penyebabnya

Whats New
Kejar Produktivitas, KKP Dorong Pengembangan Pentokolan Udang Windu

Kejar Produktivitas, KKP Dorong Pengembangan Pentokolan Udang Windu

Rilis
OJK Akan Tambah 2 Komisioner Baru untuk Awasi Pinjol dan Kripto

OJK Akan Tambah 2 Komisioner Baru untuk Awasi Pinjol dan Kripto

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+