Indonesia Ingin Populasi Mobil Listrik Mencapai 20 Persen di 2025

Kompas.com - 29/08/2017, 13:00 WIB
Menteri Peridustrian Airlangga Hartarto (kanan) melihat mobil listrik saat mengunjungi stand BMW di sela-sela pembukaan pameran Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2017 di Indonesia Convention Exebition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (10/8). Pameran yang berlangsung 10-20 Agustus 2017 itu diikuti 32 ATPM anggota GAIKINDO. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/kye/17 ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBALMenteri Peridustrian Airlangga Hartarto (kanan) melihat mobil listrik saat mengunjungi stand BMW di sela-sela pembukaan pameran Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) 2017 di Indonesia Convention Exebition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (10/8). Pameran yang berlangsung 10-20 Agustus 2017 itu diikuti 32 ATPM anggota GAIKINDO. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/kye/17
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah menginginkan populasi mobil listrik mencapai 20 persen dari seluruh mobil di Indonesia pada 2025.

Saat ini pemerintah sedang dalam proses membahas regulasinya di Kementerian Perindustrian bersama dengan Kementerian Keuangan. Pembahasan regulasi juga terkait tarif pajak mobil listrik

"Untuk Indonesia kita batasi 20 persen tahun 2025 berbasis mobil listrik. Dari sekarang sampai 2025 ada mesin berbasis hibrida, tentu ke depan kita lihat berapa besar teknologi itu akan berkembang," kata Airlangga di Jakarta, Senin (28/8/2017), seperti dikutip dari Antaranews.com

Menurut Airlangga, mobil listrik basisnya kilowatt dan km/liter. Sehingga nantinya targetnya di atas 30 km/liter untuk yang hibrida.

(Baca: Pemerintah Dorong Industri Mobil Listrik Domestik)

"Yang (mobil) listrik akan kita permudah khusus untuk PPN Barang Mewah, bea masuk maupun bea impor," kata dia.

Airlangga menambahkan pemerintah juga akan mengatur mekanisme impor mobil listrik mulai dari Incompletely Knocked Down (IKD), Completely Knocked Down (CKD) maupun Completely Build Up (CBU).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Di awal berbasis CBU karena itu untuk prototiping dan tes pasar. Kedua, tentu berbasis CKD. Jumlah lokal konten dari industri berbasis listrik itu berbeda dengan motor engine biasa, karena supliernya jauh lebih sedikit dan mesinnya lebih sederhana," papar Airlangga.

Mengenai infrastruktur pendukung, Airlangga mengatakan bahwa yang dibutuhkan antara lain colokan listrik untuk mengisi ulang baterai.

"Untuk teknologi yang lain self charging ada double engine, jadi mesin biasa ada di mobilnya, sehingga langsung men-generate listrik untuk men-charger, yang self charging tidak memerlukan dicolok. Jadi tidak perlu plug," katanya.

Kompas TV Tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan mobil listrik, Dahlan Iskan, kembali mangkir pada panggilan kedua dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.