Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Produksi Domestik Belum Cukup, Impor Gula Masih Diperlukan

Kompas.com - 30/08/2017, 22:16 WIB
|
EditorMuhammad Fajar Marta

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengungkapkan mengapa saat ini Indonesia masih melakukan importasi gula dari negara lain. Menurutnya, saat ini produksi gula dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan gula konsumsi nasional yang mencapai 3,5 juta ton.

"Kebutuhan gula konsumsi nasional 3,5 juta ton. Produksinya baik dari BUMN maupun swasta rata-rata 2,2 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka harus impor," terang Mendag di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (30/8/2017).

Mendag mengatakan, dalam melakukan importasi gula, Indonesia tidak mendatangkan gula konsumsi langsung, melainkan mendatangkan gula kristal putih ataupun raw sugar yang kemudian diolah di Indonesia untuk menjadi gula konsumsi.

"Kita jadi tukang jahit tidak ada soal. Jadi untuk mengisi gapnya itu kita harus impor," jelas Mendag.

Sebelumnya, Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) meminta kepada pemerintah agar membatasi impor gula konsumsi sesuai dengan kebutuhan dan tidak boleh dipasarkan pada saat musim giling dan menuntut kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) gula pasir dari Rp 12.500 per kilogram menjadi Rp 14.000 per kilogram.

Terhadap permintaan tersebut, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan pihaknya tidak akan menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) gula pasir yang sudah ditetapkan sebesar Rp 12.500 per kilogram.

Mendag menjelaskan, berdasarkan perhitungan Kementerian Perdangan (Kemendag) biaya produksi gula pasir untuk pelaku usaha swasta masih di kisaran Rp 6.000 per kilogram dengan catatan pabrik tersebut memiliki lahan perkebunan tebu pribadi.

Dengan demikian, Mendag melihat, penetapan HET gula pasir sebesar Rp 12.500 yang ditetapkan pemerintah sudah sesuai dengan mempertimbangkan ongkos produksi pabrik maupun keuntungan petani tebu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+