Kambing Kurban Kulon Progo, Singapura, dan Ekonomi Kerakyatan

Kompas.com - 31/08/2017, 21:21 WIB
Airku, air minum dalam kemasan produk PDAM di Kabupaten Kulon Progo, DIY. Dok Pemkab Kulon ProgoAirku, air minum dalam kemasan produk PDAM di Kabupaten Kulon Progo, DIY.
|
EditorMuhammad Fajar Marta

“Perdagangan internasional dan sistemnya tak bisa dihindari. Harus disikapi saja, dihadapi dengan ideologi membela produk sendiri. Punya percaya diri,” ujar Hasto tentang latar belakang program Bela Beli Kulon Progo tersebut.

Hasilnya, Kulon Progo punya produk air minum dalam kemasan yang dikelola PDAM setempat. PDAM, kata Hasto, singkatannya jelas adalah Perusahaan Daerah Air Minum, tetapi dalam praktiknya hampir selalu hanya menjual “air mandi”.

“Sekarang kami punya produk AirKu, per bulan memasok 2 juta gelas air minum dalam kemasan,” sebut Hasto. Jumlah itu menurut Hasto menggerus pangsa pasar perusahaan multinasional yang menjual produk serupa, yang sebelumnya tercatat 6 juta gelas per bulan.

“Kita mulai dari yang kita punya dan bisa. Setelah 1,5 tahun cari solusi, kita punya AirKu itu,” tutur Hasto. 

Gula merah dan “senjata rahasia” Indonesia

Contoh berikutnya adalah beras. Di Kulon Progo, 8.000 pegawai negeri membeli 10 kilogram beras per bulan langsung ke petani. Dinas Pertanian pun mengajari teknik pengemasan kepada petani.

Selain itu, Kulon Progo juga memasok sendiri “beras jatah” untuk masyarakat kurang mampu di wilayahnya.

“Dulu, ‘Pak Bupati, terima kasih berasnya sudah ada lauknya’. Ternyata ada kutunya. Sekarang, sejak 2013, sudah pakai beras daerah (rasda), dengan kualitas jauh lebih baik dari beras sejahtera (rastra),” imbuh Hasto.

Lalu, mulai 2014, Bulog pun tak lagi mengirimkan rastra ke Kulon Progo. Alih-alih, mereka membawa uang untuk membeli beras petani seharga Rp 4,5 miliar per bulan. Dana itu dibayarkan langsung ke petani untuk 4,5 juta kilogram rasda sebagai pengganti rastra di sana.

Ide lain pun terus bergulir di Kulon Progo. Gula kelapa adalah sasaran bidik berikutnya.

“Di Asia, produk yang tak bisa dikarteli adalah gula merah,” ujar Hasto.

Menurut Hasto, pesaing Indonesia untuk gula merah hanyalah Filipina. Itu pun, sebut dia, produk negara tetangga hanya mampu 10 persen Indonesia. Adapun Singapura, Malaysia, dan Thailand bahkan tak punya pohon kelapa—sumber bahan baku gula kelapa.

Gula Merah Organik dari Kulon ProgoDok Pemkab Kulon Progo Gula Merah Organik dari Kulon Progo

“Gula merah itu produk sangat sakti kalau mau menusuk pasar Asia. Bukan bawang atau beras. Kita kuasai dulu lah gula merah se-Indonesia, minimalnya,” tegas Hasto.

Sebelumnya, Hasto mengaku sudah berupaya merekayasa bawang merah tetap saja kalah dari Vietnam. Beras pun kalah telak soal distribusi dan harga dengan Vietnam yang bisa mengirim beras ke Balikpapan, Kalimantan Timur.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X