Heboh Bawa Tas Mahal Ditagih Bea Masuk, Sri Mulyani Bantah Aturan Diperketat

Kompas.com - 18/09/2017, 15:39 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani di diskusi Forum Merdeka Barat 9, Gedung Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Kamis (27/7/2017). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaMenteri Keuangan Sri Mulyani di diskusi Forum Merdeka Barat 9, Gedung Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Kamis (27/7/2017).
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat dibuat heboh dengan viralnya video penarikan bea masuk impor kepada penumpang yang membawa tas bermerek dari luar negeri oleh petugas Bea Cukai Bandara. Anggapan adanya pengetatan aturan pun muncul.

Namun Menteri Keuangan Sri Mulyani membantah adanya pengetatan aturan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Ditjen Bea Cukai) di bandara-bandara pintu masuk penumpang dari luar negeri.

(Baca: Agar Nyaman Bawa Barang dari Luar Negeri, Perhatikan Hal-Hal Ini)

"Kalau pengetatan sih tidak," ujarnya di Kantor Koordinator Perekonomian, Jakarta, Senin (18/9/2017).

Menurut perempuan yang kerap disapa Ani itu, apa yang dilakukan oleh petugas bea cukai adalah tugas yang biasa dilakukan untuk menjaga seluruh wilayah kepabeanan Indonesia.

(Baca: Beli Tas Bermerek di Luar Negeri Ditagih Pajak Jutaan Rupiah, Ini Penjelasannya)

Sebenarnya, aturan pengenaan bea masuk sudah diatur di dalam  Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188 Tahun 2010.

Batasan harga barang yang kena bea masuk yaitu sebesar 250 dolar AS per individu dan 1.000 dolar AS per keluarga.

Meski begitu, Sri Mulyani mengatakan sudah menginstruksikan ke Ditjen Bea Cukai untuk menyederhanakan batasan harga dari volume barang bisa dikenai tarif bea masuk.

"(Sehingga bisa) untuk merefleksikan kebutuhan saat ini," kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.010/2017, pemerintah mengatur 10.826 jenis barang dengan tarif bea masuk yang beragam mulai 0 persen, 2,5 persen, 5 persen, 10 persen, 15 persen, 20 persen, 25 persen hingga lebih dari 30 persen. 

Kompas TV Rokok ilegal ini berasal dari Surabaya dan ingin disebarkan di wilayah Sulawesi Selatan

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X