Perspektif Komunikasi Konsumen, Saat "Lebah" Berhadapan dengan “Gajah”

Kompas.com - 18/09/2017, 15:55 WIB
Ilustrasi KOMPAS/DIDIE SWIlustrasi
EditorAmir Sodikin

JAM di tangan kiri saya berdetak sesuai ritme waktu. Tak ada yang salah. Saya memelototi berkali-kali, tetap saja jarum arloji tak pernah ragu terus melaju mengikuti ritme biologisnya. Tak tik tok!

Saat jenuh bolak-balik nongkrong dan window shopping di mal baru yang melengkapi kawasan superblok itu, saya memutuskan bersujud di sarana ibadah yang luas di basement parkir mal. Turun lift dan menyambung eskalator.

Di sini saya tafakur agar dapat mengusir kejenuhan. Sedikit rasa kecewa merebak, tapi saya segera sadar sebab saya yang butuh, dan mendatangi orang itu. Dalam perspektif komunikasi, saya harus tahu diri sebagai hamba, bukan sebagai terundang untuk berjumpa orang penting itu. 

Azan maghrib pun berkumandang. Merdu, syahdu, dan itulah panggilan kemenangan bagi saya. Dalam hati saya menghitung, lebih tiga jam menunggu, sungguh sia-sia. Tapi…, “Saya yang butuh, saya harus sabar, positive thinking, dan tetap tawakal.”

Nah, sambil menunggu kepastian ia datang di tempat pertemuan yang sudah kami sepakati, saya mengirimkan pesan WhatsApp. Orang itu pun memastikan belum bisa meninggalkan meeting penting.

Padahal ini adalah janji kami ke sekian kalinya. Akhirnya, saya pun membalas untuk pamit sebab masih ada janji dengan mitra usaha lain. Ia mengeluarkan satu jurus maut,”…Maaf!”

Saya pun sibuk dengan urusan pekerjaan lain. Urusan menawarkan pemasaran project sebuah apartemen di Jatinangor Bandung, kepada orang itu terlupa.

Selang lewat sepekan, saya bertanya apakah ia telah membaca penggalan summary bisnis yang saya tawarkan. Sambil berharap ia akan memberi umpan balik, kritik, dan semoga juga solusi, sungguh itu pun tak saya dapatkan.

Padahal ia sangat berpengalaman di bidang marketing property yang saya tawarkan untuk ia dan timnya jajaki ceruk pemasaran di Ibu Kota Jakarta. Saya mafhum, mungkin ia overloading dalam pekerjaan sehingga tak punya sedetik pun waktu untuk memberi respons pertanyaan saya.

Saya yakin, pengalaman tak mengenakkan untuk bertemu seseorang, atau bertemu dengan calon klien, korporasi atau yang mewakilinya, atau pejabat, atau pemilik otoritas tertentu, pernah dirasakan oleh setiap orang. Saya yakin, saya tidak sendiri. 

Kasus kedua

Semua keraguan saya tentang perilaku seseorang yang merepresentasikan sebuah korporasi itu perlahan kian terkikis saat merebaknya kasus yang menimpa property di kawasan perempatan Rawasari, Jakarta Pusat.

Adalah komika Muhadkly alias Acho yang pada akhirnya harus berbenturan secara keras dengan pihak pengelola management building. Kritik dan masukan lewat blog pribadinya, dianggap sebagai pencemaran nama baik oleh pengelola apartemen.

Mungkin, memang benar kritik Acho, tapi fakta yang dibeberkan Acho mendapat respons lain.
Acho hanyalah penghuni yang menyampaikan kekecewaan yang tersumbat, dan itu juga mungkin mewakili perasaan sekian ratus silent majority penghuni apartemen lainnya.

Sebagai komika, Acho terbiasa melancarkan parodi, sarkasme, kritik, dan umpan balik terhadap penonton show secara menggelitik. Seharusnya pula, kalaupun tulisan Acho ada yang keliru, tentulah ada hak jawab pihak yang dirugikan, secara proporsional. Namun problemnya, media tempat ia mencurahkan gagasan bukanlah media massa. 

Di dalam hati, saya dapat menebak ending story, saat kuasa hukum pengembang mengalami “blunder” ketika ia mengajukan case Acho ke polisi. Apalagi respons polisi sangat tanggap dan secara cepat memeriksa, bahkan menjadikan Acho “pesakitan”.

Keluhan dan demo terhadap pengembang, sebenarnya bukan hanya terjadi pada apartemen tempat Acho tinggal. Di kelas studi yang saya hadiri di Panangian School of Property (PSP), sang mentor pernah membeberkan status kepemilikan lahan hunian strategis di apartemen.

Oh, pikir saya dalam hati. Saya tak mendebat lebih jauh, sebab saya memang lagi “minus” untuk berinvestasi properti. Apalagi saya paham, disharmoni antara pengembang, atau management buiding terhadap sejumlah penghuni, seperti benang kusut yang rombeng, atau ibarat comberan dipenuhi kecoa got.

Padahal, pastilah banyak cara guna menyelesaikan keruwetan. Belum tentu membawa kasus ke ranah hukum dapat menentukan kemenangan bagi pihak yang merasa dirugikan.

Benar saja, simpati, dan dukungan penghuni plus netizen bagi perjuangan Acho menderas, bahkan sukar terbendung. Saya paham, sudah sangat lama warga negara Republik tercederai oleh pihak yang lebih berkuasa.

Sedikit saja ada pemicu, membuat simpati publik menderas, massif, bahkan bagai air bah dicurahkan dari langit. Seketika dapat merontokkan wibawa hukum.

Sebab ada rasa keadilan masyarakat yang lama tertindas di dalam ruang publik, terlepas case-nya benar atau salah. Entah ada komando atau tidak, nyatanya simpati terhadap Acho memaksa pihak pelapor kembali ke meja mediasi.

Bila ia pun kasus Acho menjadi kasus hukum, tentu terbuka bagi studi kelayakan. Apalagi bisa jadi yurisprudensi, yaitu sebagai pijakan berdasar keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi suatu perkara yang tidak diatur dalam undang-undang dan dijadikan pedoman bagi para hakim menyelesaikan suatu perkara yang sama.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X