Dana Endapan Uang Elektronik Dimungkinkan untuk Disalurkan Menjadi Kredit

Kompas.com - 26/09/2017, 08:15 WIB
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Dana yang mengendap menjadi saldo uang elektronik saat ini tidak bisa dimanfaatkan oleh perbankan untuk menyalurkan kredit.

Akan tetapi, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan Bank Indonesia (BI) saat ini tengah mengkaji kemungkinan pemanfaatan dana tersebut.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menyatakan, dana yang mengendap di uang elektronik tidak masuk ke dalam sisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Sehingga, dana tersebut tidak bisa digunakan untuk menyalurkan kredit.

"Itu yang sedang kami diskusikan bersama BI, karena itu belum dimasukkan ke dana pihak ketiga, masuk ke kewajiban segera," ujar Kartika di Menara Mandiri, Jakarta, Senin (25/9/2017).

Kartika menyatakan, saat ini uang elektronik Bank Mandiri yang diedarkan mencapai 9,6 juta kartu. Uang elektronik Bank Mandiri yang beredar tersebut menyumbang 53 persen terjadap keseluruhan transaksi uang elektronik.

Menurut dia, dana endapan uang elektronik sebenarnya jumlahnya tidak terlalu besar. Akan tetapi, apabila dana tersebut bisa digunakan sebagai DPK, maka ini bisa menjadi salah satu sumber pendapatan perseroan.

"Kalau diperbolehkan sebagai DPK, bisa menjadi salah satu balancing dari revenue resources (sumber pendapatan) kita," tutur Kartika.

Sebelumnya, BI menyatakan, dana endapan uang elektronik masuk ke dalam sisi kewajiban segera dalam neraca bank. Dengan demikian, dana tersebut tidak bisa digunakan untuk menyalurkan kredit.

Kepala Pusat Program Transformasi BI Onny Widjanarko mengungkapkan, dana endapan uang elektronik merupakan sumber dana murah. Namun, dana itu bukan DPK yang kemudian bisa digunakan untuk menyalurkan kredit.

"Sumber dana murah tapi bukan DPK, kecuali pengendapannya segitu terus, aset manageable (terkelola dengan baik), itu bisa," ungkap Onny beberapa waktu lalu.

Menurut Onny, dana yang mengendap di uang elektronik merupakan dana jangka sangat pendek. Sehingga, dikhawatirkan akan menimbulkan ketidaksesuaian apabila digunakan untuk penyaluran kredit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.