Sri Mulyani Ungkap Mengapa Peringkat Daya Saing Indonesia Meningkat

Kompas.com - 29/09/2017, 19:33 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) didampingi Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo (kiri) menyampaikan pendapatnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/9). Rapat itu membahas utang pemerintah.ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) didampingi Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo (kiri) menyampaikan pendapatnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/9). Rapat itu membahas utang pemerintah.

JAKARTA, KOMPAS.com - World Economic Forum (WEF) baru saja menaikan peringkat daya saing Indonesia secara global melalui Global Competitiveness Index 2017-2018.

Dalam peringkat daya saing tersebut Indonesia mendapatkan posisi di peringkat ke-36 dari 137 negara atau naik 5 tingkat dari peringkat sebelumnya di posisi ke 41.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Muyani Indrawati mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya peringkat daya saing Indonesia di panggung internasional.

Salah satunya adalah fokus pemerintah dalam hal pembangunan infrastruktur di berbagai daerah hingga kemudahan berinvestasi.

"Itulah kenapa WEF mengatakan Indonesia daya saingnya maju lagi dari 41 jadi 36 itu penting," ujar Sri Mulyani saat menjadi pembicara di Kantor Pertamin Pusat, Jakarta, Jumat (29/9/2017).

Menurutnya, pembangunan infrastruktur di berbagai daerah memang menyedot banyak biaya, namun hal itu perlu dilakukan guna memberikan efek ekonomi jangka panjang.

Begitu juga dalam hal pembangunan sumber daya manusia melalui investasi pendidikan, kesehatan, guna meningkatkan taraf hidup atau kesejahteraan masyarakat.

"Meski investasi dilakukan oleh pemerintah itu bukan berarti kita membuang uang," jelasnya.

Sebelumnya, dalam paparan World Economic Forum (WEF) disampaikan Indonesia adalah salah satu inovator teratas di antara negara berkembang. Indonesia dinilai telah menunjukan perbaikan kinerja pada semua pilar.

Adapun pilar-pilar tersebut adalah institusi, infrastruktur, lingkungan makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan yang lebih tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, perkembangan pasar uang, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis serta inovasi.



EditorBambang Priyo Jatmiko

Close Ads X