Patung Pancoran, Visi Dirgantara, dan Proyek R80 Habibie (Bagian I)

Kompas.com - 29/09/2017, 21:35 WIB
Patung di Tugu Dirgantara, karya seniman patung Edhi Sunarso, berdiri kokoh di kawasan Pancoran, Jakarta, Selasa (5/1/2016). Edhi Sunarso meninggal dunia pada usia 83 tahun dan dimakamkan di kompleks pemakaman seniman Girisapto, imogiri, Bantul. Karya-karya patung Edhi Sunarso menjadi penanda Ibu Kota antara lain patung di Tugu Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan patung tugu selamat datang di Bundaran Hotel Indonesia.KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Patung di Tugu Dirgantara, karya seniman patung Edhi Sunarso, berdiri kokoh di kawasan Pancoran, Jakarta, Selasa (5/1/2016). Edhi Sunarso meninggal dunia pada usia 83 tahun dan dimakamkan di kompleks pemakaman seniman Girisapto, imogiri, Bantul. Karya-karya patung Edhi Sunarso menjadi penanda Ibu Kota antara lain patung di Tugu Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan patung tugu selamat datang di Bundaran Hotel Indonesia.

PATUNG PANCORAN. Hari ini, bisa jadi tak banyak orang yang tahu bahwa nama asli patung ini adalah Patung Dirgantara. Fungsinya sebagai “gerbang” Bandara Halim Perdanakusuma pun sepertinya sudah tak lagi kelihatan.

Kaitan erat patung tersebut dengan visi besar Soekarno soal dunia kedirgantaraan Indonesia makin redup pula gaungnya.

Kini, peluang untuk menghidupkan lagi seluruh rerangkaian kisah dan asa kedirgantaraan Indonesia menyeruak lagi, yaitu lewat proyek pesawat R80 yang diinisiasi BJ Habibie.

Bagaimana ceritanya?

“Butuh waktu 30 tahun untuk melahirkan satu generasi dirgantara yang benar-benar bisa merancang dan membuat sendiri sebuah pesawat. Tak hanya membuat, tapi juga memiliki industri pesawat,” ujar Deputi Direktur Keuangan Urusan Pendanaan PT Regio Aviasi Industri (RAI) Desra Firza Ghazfan, saat berbincang dengan Kompas.com lewat saluran telepon, akhir Agustus 2017.

(Baca juga: Melihat Lebih Dekat Pesawat R80 Rancangan BJ Habibie)

Salah, kata Desra, bila sosok BJ Habibie dilekatkan dengan kepemimpinan Soeharto dan Orde Baru. Menurut dia, Habibie adalah salah satu saja dari angkatan pertama generasi dirgantara yang dikirimkan Soekarno ke berbagai negara untuk belajar membuat pesawat.

“Pengiriman pelajar-pelajar Indonesia ke luar negeri terkait teknologi dirgantara sudah dimulai pada 1950-an. Baru pada 1980-an, kita benar-benar bisa membuat sendiri pesawat terbang (dalam skala ekonomi),” ujar Desra.

Namun, perjalanan panjang mencetak generasi dirgantara yang bisa membuat sendiri pesawat terbang tersebut kandas sejalan dengan hantaman krisis moneter pada 1997-1998.

Pesawat N250 buatan BJ Habibie, di pabrik PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jumat (14/2/2014).KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Pesawat N250 buatan BJ Habibie, di pabrik PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jumat (14/2/2014).
Pesawat N-250 yang sudah jadi pun teronggok beku di hanggar PT Dirgantara Indonesia. Penerusnya pun, pesawat bermesin jet dan berbadan lebar N-2130, tinggal rencana di atas kertas.

Patung Dirgantara

Visi Soekarno soal kedirgantaraan juga masih meninggalkan jejak nyata berupa Patung Dirgantara alias Patung Pancoran tadi. Peristiwa Gerakan 30 September pada 1965 mewarnai sejarah patung ini, berimbas pada pembuatan yang disebut tak tuntas.

Soekarno memerintahkan pembuatan Patung Dirgantara pada 1964. Sang pematung, Edhi Sunarso, sempat janjian dengan Soekarno pada 30 September 1965 di Istana Negara. Janji ketemu tak pernah berwujud meski Edhi sudah menanti selama berjam-jam.

Baca juga: Mengapa Pesawat Rancangan BJ Habibie R80 Gunakan Mesin Baling-baling?

Pada hari itu, Soekarno berada di luar kota dan sekembali ke Jakarta pun tak pulang ke Istana Negara. Belakangan Edhi baru tahu pada hari itu ada peristiwa penculikan dan pembunuhan Pahlawan Revolusi.

Tak ada kabar selama beberapa waktu, Soekarno tiba-tiba menagih hasil pembuatan patung kepada Edhi pada 1967. Jawaban yang muncul, patung itu sudah jadi tetapi Edhi terbelit utang karena pekerjaan tersebut dan tak ada lagi dana buat memasangnya.

Edhi Sunarso (1932-2016), seniman patung.KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Edhi Sunarso (1932-2016), seniman patung.
Seperti antara lain ditulis Mohammad Hilmi Faiq dalam “Menggapai-gapai di Lintasan Sejarah” di harian Kompas edisi Minggu (22/3/2015),  biaya pemasangan patung ini akhirnya memakai uang hasil penjualan salah satu mobil pribadi Soekarno. Harga mobil tersebut, waktu itu Rp 1,25 juta. Kurs rupiah pada 1967 adalah Rp 250 per 1 dollar AS.

Sayangnya, Soekarno tak pernah melihat akhir dari pekerjaan Edhi, apalagi meresmikannya. Kekuasaan Soekarno rampung. Bahkan, saat Edhi masih bekerja di ketinggian merampungkan pemasangan patung ini, Soekarno mangkat pada 1970.

Lalu, apa hubungannya Patung Dirgantara—selain soal nama—dengan visi kedirgantaraan Indonesia? Apa pula kaitannya dengan proyek pesawat R80 yang dibesut PT RAI dan sosok Habibie? Simak pada Bagian II, III, dan IV tulisan berseri ini di hari berikutnya secara berturut-turut di Kompas.com

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAmir Sodikin
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X