Industri Nasional Harus Gunakan Teknologi Baru agar Daya Saing Naik

Kompas.com - 05/10/2017, 10:00 WIB
Alexander Balchin merancang Clean Air Tower atau menara untuk udara bersih yang menggabungkan arsitektur vertikal dengan teknologi industri yang mampu  menghasilkan tenaga sendiri. Alexander Balchin merancang Clean Air Tower atau menara untuk udara bersih yang menggabungkan arsitektur vertikal dengan teknologi industri yang mampu menghasilkan tenaga sendiri.
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan The Global Competitiveness Report 2017-2018 yang dirilis World Economic Forum (WEF), tingkat inovasi di Indonesia berada pada tangga ke-31.

Namun demikian, meski indeks inovasi mampu menempati posisi cukup baik, kesiapterapan teknologi masih berada di angka ke-80 dari 137 negara yang dinilai.

“Diperlukan upaya pelengkap untuk memastikan bahwa lebih banyak orang dan perusahaan memiliki sarana dalam mengakses dan menggunakan teknologi baru,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara melalui keterangan resmi, Kamis (5/10/2017).

Ngakan menyebutkan, faktor yang mempengaruhi terhadap tingkat kesiapterapan teknologi, antara lain ketersediaan teknologi terbaru, penyerapan teknologi di perusahaan, dan transfer teknologi dari investasi langsung pemodal asing.

(Baca: Sri Mulyani Ungkap Mengapa Peringkat Daya Saing Indonesia Meningkat)

Adapun langkah strategis yang telah dilakukan Kemenperin guna menunjang kesiapterapan teknologi di dalam negeri, di antaranya adalah mendorong pengembangan teknologi informasi komunikasi dengan menjadikan industri elektronika dan telematika sebagai sektor andalan nasional.

“Pada tahun 2015-2019, sektor industri yang akan dikembangkan, salah satunya terkait transmisi telekomunikasi dan smart mobile phone,” ungkap Ngakan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam upaya penguasanaan teknologi, pemerintah melakukan pengadaan teknologi industri melalui proyek putar kunci.

Artinya, penyedia teknologi wajib melakukan alih teknologi kepada pihak domestik sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

“Melalui proyek putar kunci, para pelaku industri nasional akan dapat dengan cepat mengadopsi dan menerapkan teknologi terkini di bidang industri sehingga memacu peningkatan kesiapterapan teknologi di Indonesia,” paparnya.

Di samping itu, Kemenperin menjalin kerja sama dengan lembaga litbang lainnya baik dari dalam maupun luar negeri. Misalnya, upaya sinergi dengan Ghent University, Belgia untuk pengembangan komoditi cokelat dan produk turunannya.

“Kami juga bekerja sama dengan Tsinghua University, Tiongkok untuk mempercepat implementasi konsep Industry 4.0 dan kerja sama dengan United in Diversity Foundation untuk membentuk pusat unggulan bidang inovasi dan kepemimpinan kewirausahaan,” tutur Ngakan.

Kompas TV Pemerintah Kerek Daya Saing Pelaku Logistik Nasional
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.