Potensi Kredit Bermasalah Akibat Erupsi Gunung Agung Lebih Dari Rp 1 Triliun - Kompas.com

Potensi Kredit Bermasalah Akibat Erupsi Gunung Agung Lebih Dari Rp 1 Triliun

Kompas.com - 14/10/2017, 12:00 WIB
Warga berkumpul untuk mencari informasi aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Selasa (19/9/2017). Sejak Senin, 18 September, pukul 21.00 Wita, status Gunung Agung dinaikkan dari level Waspada ke Siaga menyusul meningkatnya gempa vulkanik yang terdeteksi melalui pos pemantauan.ANTARA FOTO/NYOMAN BUDHIANA Warga berkumpul untuk mencari informasi aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Selasa (19/9/2017). Sejak Senin, 18 September, pukul 21.00 Wita, status Gunung Agung dinaikkan dari level Waspada ke Siaga menyusul meningkatnya gempa vulkanik yang terdeteksi melalui pos pemantauan.

TABANAN, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Regional 8 Bali-Nusa Tenggara meprediksi jumlah kredit macet akibat erupsi Gunung Agung bisa lebih dari Rp 1 triliun.

Deputi Direktur Hubungan Kelembagaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 8 Bali-Nusa Tenggara, Jufri mengatakan angka ini diperoleh setelah melakukan rapat kordinasi dengan sejumlah bank umum, BPR dan BPD Bali.

"Dampak erupsi Gunung Agung terhadap non-performance loan sudah kami prediksi," kata Jufri dalam acara pelatihan wartawan dan Gathering media massa, Jumat (13/10/2017).

Penurunan performa pembayaran kredit sejauh ini terjadi pada nasabah yang tinggal pada 12 km dari pucak Gunung Agung. Ini terjadi lantaran mereka tidak bisa menjalankan usaha dan harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Berdasarkan data yang dihimpun OJK, sampai dengan Oktober 2017, potensi NPL pada 50 BPR Rp 146,52 miliar, 8 bank umum berkantor pusat di Jakarta Rp 570,86 miliar, BPD Bali 781,12 miliar dan Bank Mantap Rp 479 miliar.

"Yang sudah terjadi ada penurunan performa pengembalian kredit ke BPD Bali sebesar Rp 80 miliar dan Bank Mantap sebesar Rp 54 milar," lanjut Jufri.

Terkait dengan hal ini, OJK terus melakukan kajian sejumlah langkah untuk mengantisipasi jika gunung Agung benar-benar meletus. Saat ini pihaknya belum bisa mrngambil langkah tertentu karena belum terjadi bencana.

Mengacu pada pengalaman bencana alam di Padang dan Yogyakarta, pihaknya memberikan kelonggaran kepada perbankan untuk tidak menetapkan kredit macet sebagai NPL setelah bencana terjadi. Sehingga tidak mempengaruhi penilaian terhadap kinerja bank.

"Kalau sudah bencana baru diberikan kelonggaran tidak diberlakukan sebagai NPL, makanya kebijakan mengikuti penetapan status kebencanaan oleh pemerintah," ujarnya.

Saat ini sejumlah bank menuritnya telah melakukan penangguhan pembayaran kredit. Terutama bagi debitur yang berasal dari wilayah bahaya di sekitar Gunung Agung.


EditorBambang Priyo Jatmiko
Komentar
Close Ads X