Di AS, Ketua OJK Bicara Tentang Risiko Serangan Siber

Kompas.com - 18/10/2017, 12:00 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso di Gedung DPR/MPR, Rabu (16/8/2017). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso di Gedung DPR/MPR, Rabu (16/8/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan ( OJK) Wimboh Santoso berpidato pada rangkaian pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia di Washington DC, Senin (16/10/2017) waktu setempat atau Selasa (17/10/2017) waktu Indonesia. Dalam pidatonya, Wimboh menyinggung perihal risiko serangan siber.

Wimboh menyatakan, risiko serangan siber pada sistem keuangan saat ini sudah semakin besar. Hal ini akibat pesatnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di industri jasa keuangan.

“Upaya pencegahan serangan siber tidak dapat dilakukan hanya oleh satu negara saja, tetapi harus merupakan inisiatif global karena para hackers (peretas) beroperasi tanpa mengenal batas negara,” kata Wimboh dalam keterangan resmi, Rabu (18/10/2017).

Ia berpendapat, meningkatnya penggunaan internet oleh pemerintah, pelayanan publik, dan bisnis swasta termasuk di industri jasa keuangan memiliki implikasi besar jika tidak ditangani dengan baik.

(Baca: Fintech Berpotensi Dibobol Serangan Siber, Dunia Khawatir)

“Di Indonesia, industri jasa keuangan dikategorikan sebagai salah satu infrastruktur penting yang perlu dijaga dari ancaman keamanan dunia maya,” jelas Wimboh.

Menghadapi hal itu, OJK berencana membuat layanan informasi keuangan yang bertugas mempercepat pemulihan saat terjadi serangan siber. OJK juga bakal membentuk lembaga pelatihan penanganan serangan siber.

Wimboh menuturkan, kepedulian industri jasa keuangan di setiap negara terhadap risiko serangan siber harus ditingkatkan dengan penguatan manajemen risiko operasional terkait teknologi informasi.

Selain itu, untuk mengantisipasi peningkatan ancaman keamanan siber, OJK telah bergabung dalam inisiatif bersama untuk membentuk Badan Siber Nasional bersama sejumlah kementerian dan lembaga negara seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pertahanan, Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Kepolisian, dan lain-lain.

Dalam lawatannya memenuhi undangan Bank Dunia ini, Wimboh juga menghadiri dua pertemuan tingkat tinggi bersama beberapa perwakilan bank sentral maupun otoritas pengawas keuangan negara lain untuk membahas dua isu besar, yaitu Annual Meeting of the IFC-led Sustainable Banking Network (SBN) dan Regulatory Approaches for Non-Systemic Banks.

Wimboh juga menjadi pembicara utama dalam Seminar Annual Meeting of the IFC-led Sustainable Banking Network (SBN).

Dalam kesempatan di depan 30 perwakilan negara itu, Wimboh mengatakan bahwa pengaruh perubahan iklim dapat mengakibatkan gangguan pada sektor jasa keuangan dan berpotensi memicu krisis ekonomi.

Kompas TV Apa saja upaya pemerintah antisipasi serangan siber?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X