Bos BEI: Bu Susi, Tolong Bu, Susi Air-nya Go Public Dong...

Kompas.com - 30/10/2017, 05:30 WIB
Dirut BEI Tito Sulistio di Dubai, Minggu (29/10/2017) KOMPAS.com/APRILLIA IKADirut BEI Tito Sulistio di Dubai, Minggu (29/10/2017)
Penulis Aprillia Ika
|
EditorAprillia Ika

DUBAI, KOMPAS.com - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia ( BEI) Tito Sulistio mendapatkan pertanyaan sulit dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Kok bisa dollar AS naik tapi indeks bursa mencapai level 6.000?

Tito dalam sesi sharing dengan sejumlah media di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) mengungkapkan pertanyaan Menteri Susi tersebut dan mencoba menjawabnya.

Tito berseloroh, bahwa kinerja bursa hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tembus level 6.000 adalah peran dari para menteri di kabinet, terutama menteri wanita.

"Ini karena menteri wanitanya wonder woman, jagoan semua," canda Tito, Sabtu (28/10/2017) malam.

Dia kemudian menjelaskan alasan utama dari membaiknya kinerja bursa walaupun dollar AS menguat yakni akibat membaiknya perekonomian Indonesia di 2016 dan 2017.

Pada dua tahun tersebut, Tito menilai perbandingan antara inflasi dengan BI rate sudah ideal. Sampai September 2017, inflasi di level 3,82 persen sementara BI rate di level 4,25 persen.

Jika dibandingkan dengan 1997 dan 1998, kondisi saat ini sudah jauh membaik sebab di 1997-1998 perekonomian Indonesia terpuruk. Saat itu rating kredit Indonesia hanya C. Bahkan Indonesia dianggap negara yang pas-pasan saja, kalah dengan Filipina dan Vietnam.

Kredit rating sendiri merupakan penilaian yang dilakukan lembaga-lembaga pemeringkat dari Amerika Serikat (AS) apakah negara yang dinilai tersebut memiliki kemampuan untuk membayar utangnya atau tidak. Di 2017, kredit rating Indonesia bahkan sudah mencapai investment grade.

Namun dari sisi MSCI, Indonesia masih belum bagus hingga 2017 ini. MSCI ini digunakan untuk menentukan bobot investasi suatu negara. Saat ini porsi Indonesia dalam MSCI Emerging Markets setara dengan 2,54 persen dikali 1,5 triliun dollar AS atau sekitar 38 miliar dollar AS.

Menurut Tito, hal ini berakibat pada pasar saham Indonesia yang masih kecil. Situasi saat ini, market cap BEI Rp 6.600 triliun-Rp 6.800 triliun. Transaksi mencapai Rp 7,5 triliun per hari.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X