3 "Jagoan" Keuangan Patahkan Persepsi Ritel Modern Gugur karena Anjloknya Daya Beli

Kompas.com - 31/10/2017, 20:56 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat berada di Kompasianival 2017, di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (21/10/2017). Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Menteri Keuangan Sri Mulyani saat berada di Kompasianival 2017, di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (21/10/2017).
Penulis Yoga Sukmana
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Penurunan daya beli masyarakat kerap disebut-sebut menjadi kambing hitam sepinya gerai-gerai ritel konvensional, bahkan hingga tutup. Namun 3 "jagoan" ekonomi Indonesia mematahkan persepsi tersebut.

Usai rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) semua sektor ekonomi, termasuk ritel tumbuh tumbuh double digit.

"Ini menggambarkan ada aktivitas ekonomi yang mendasari pembayaran pajak itu," ujarnya di Jakarta, Selasa (31/10/2017).

Berdasarkan data household consumption Bank Dunia tutur Sri Mulyani, dari 10 kelompok pendataan, 30 persen masyarakat berpenghasilan paling rendah, konsumsinya lebih tinggi dari tahun lalu.

(Baca: Ritel Modern Berguguran dan Abnormalitas Daya Beli)

Hal itu tutur dia sejalan dengan banyaknya gelontoran dana dari pemerintah kepada masyarakat tidak mampu melalui program-program bantuan sosial. Akibatnya, daya beli tetap tumbuh.

Selain itu, harga-harga kebutuhan pokok juga tidak melonjak tinggi sehingga terjangkau oleh 30 persen kelompok masyarakat kelas bawah.

Sementara itu pertumbuhan konsumsi kelompok kelas menengah ada dikisaran 5-6 persen, lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 8 persen. Meski begitu, tingkat konsumsi masih positif.

Hingga akhir 2017, pemerintah meyakini konsumsi masyarakat akan tumbuh diangka 5 persen.

Di tempat yang sama, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya melihat kondisi perbaikan tingkat konsumsi pada kuartal III dan IV 2017. Di ritel misalnya, tumbuh 2,4 persen pada September 2017 secara tahunan. Belum terlalu kuat, namun positif.

"Penjualan motor Agustus 2017 mencapai 5,29 persen secara tahunan. Semantara penjualan mobil tumbuh 0,04 persen. Kelihatan konsumsi membaik meski terbatas," kata Agus.

Dari sisi perbankan, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menuturkan, kredit ritel justru melonjak 7,6 persen, lebih tinggi dari kredit korporat. Adapun kredit macet sektor ritel kata dia terbilang rendah.

"Jadi kayaknya aktivitas ritel ini tidak terganggu dari sisi pertumbuhan kredit," kata Wimboh.

Meski begitu, KSSK sepakat untuk terus memberikan informasi kepada masyarakat terkait daya beli dan pertumbuhan konsumsi. Hal itu dinilai penting untuk mengedukasi masyarakat di tengah isu penurunan daya beli.

Selain itu, KSSK juga menyinggung terkait perubahan ekonomi konvensional ke digital. Hal ini bisa memiliki dampak kepada keputusan perusahaan ritel menutup gerai dan beralih ke belanja online.

Kompas TV Meski sudah menganalisis pergeseran, belum ada data lebih lengkap untuk menggambarkan pola konsumsi digital

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X