Terkait Freeport, Kepentingan Nasional Bisa Didapat Tanpa Meniadakan Manfaat Investasi Asing

Kompas.com - 01/11/2017, 16:00 WIB
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa waktu lalu disepakati divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia. Keputusan ini dimaksudkan untuk mengedepankan kepentingan nasional dan kedaulatan negara.

Pengamat kebijakan mineral Rachman Wiriosudarmo mengungkapkan, kepentingan nasional memang harus menjadi tujuan utama dalam kebijakan investasi asing.

"Namun, kepentingan nasional tersebut harus diperoleh tanpa meniadakan kemanfaatan investasi asing kalau memang masih diperlukan," ungkap Rachman dalam pernyataannya, Rabu (1/11/2017).

Rachman menuturkan, saat ini Indonesia menerapkan prinsip resource nationalism, yakni kebijakan negara dengan tujuan mempersempit ruang gerak investasi asing di sektor pertambangan mineral dan migas.

(Baca: Negosiasi Harga Jual Saham Freeport Masih Alot)

Kebijakan ini umumnya dilakukan karena tekanan politik atau berkembangnya ideologi tertentu yang amat berpengaruh pada perkembangan politik dalam negeri.

Namun demikian, imbuh Rachman, inti prinsip ini adalah adanya anggapan bahwa investor asing memperoleh terlalu banyak manfaat dari investasi. Ini terutama pada waktu harga komoditas mengalami peningkatan yang tinggi.

Meskipun telah diterapkan di berbagai negara, namun masih menjadi perdebatan apakah resource nationalism benar-benar diperlukan dan menguntungkan bagi negara dan bangsa.

“Indonesia tidak perlu dengan serta merta menerapkan resource nationalism hanya karena kebijakan tersebut marak diterapkan di banyak negara," tutur Rachman.

Hal ini karena kegiatan eksplorasi pertambangan merupakan kegiatan risiko tinggi dengan tingkat kesuksesan rendah. Kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan tidak selalu berhasil.

Kalaupun ditemukan cadangan, belum tentu cadangan tersebut menguntungkan untuk ditambang.

Cadangan terlalu kecil yang terdapat dilokasi yang sulit atau terpencil cenderung tidak menguntungkan atau tidak feasible untuk ditambang.

“Hanya perusahaan pertambangan yang kuat yang mampu mengatasi tantangan tersebut. Perusahaan pertambangan besar harus bermodal kuat, memiliki dan menguasai teknologi dan akses pasar. Maka hanya perusahaan pertambangan besar internasional yang mendominasi investasi pertambangan di negara berkembang, termasuk di Indonesia," ujar Rachman.

Kompas TV Negosiasi antara pemerintah dan Freeport masih alot meski kesepakatan perubahan status dan divestasi saham sudah disepakati.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.