Indonesia 5 Besar Eksportir Alas Kaki Dunia

Kompas.com - 07/11/2017, 22:23 WIB
Ilustrasi. Sepatu Cibaduyut. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOIlustrasi. Sepatu Cibaduyut.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ngakan Timur Antara mengungkapkan, hingga menjelang akhir tahun 2017, investasi sektor industri alas kaki telah mencapai Rp 7,62 triliun atau naik empat kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Menurut dia, dengan besaran investasi yang mencapai Rp 7,62 triliun Indonesia mampu menunjukan prestasi pada sektor industri alas kaki, Indonesia berhasil menduduki posisi kelima sebagai eksportir dunia setelah China, India, Vietnam, dan Brasil.

"Market share-nya di pasar internasional mencapai 4,4 persen,” kata Ngakan melalui keterangan resmi, Selasa (7/11/2017)..

Kendati demikian, Ngakan menyampaikan, industri kulit, produk kulit dan alas kaki dalam negeri perlu mempertahankan desain, suplai bahan baku serta keberlanjutan industri untuk meningkatkan daya saingnya.

Baca juga: Kemenperin Target Nilai Produksi IKM Alas Kaki Tembus Rp 24 Triliun

Ilustrasi alas kakikompas.com/Firmansyah Ilustrasi alas kaki
“Kendati produk kulit dari Indonesia telah masuk ke pasar ekspor, sektor ini masih harus mengejar produk negara lain dari segi desain serta branding,” tuturnya. 

Lebih lanjut, menurut dia, salah satu tantangan utama di sektor ini adalah kecenderungan konsumen memilih produk branded. “Karenanya, kita perlu mendorong agar produk lokal kita merajai di tingkat nasional,” ujar Ngakan.

Khusus faktor Sumber Daya Manusia (SDM), Ngakan menegaskan, perlunya peningkatan kompetensi untuk memenuhi kebutuhan dunia industri saat ini.

Dengan itu, pendidikan vokasi disiapkan guna menyiapkan tenaga kerja yang terampil. “Pemerintah juga terus memberikan bekal ilmu pengetahuan dasar terkait industri kepada anak didik di bangku sekolah yang kemudian akan dikembangkan oleh dunia industri,” kata dia.

Baca juga : Industri Alas Kaki Perlu Dorong Merek Nasional

Kemenperin telah melaksanakan program pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

Program yang dimulai sejak Februari 2017 ini, telah diluncurkan empat tahap hingga bulan Oktober.

Wilayah tersebut, meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah dan D.I. Yogayakarta, Jawa Barat serta Sumatera bagian utara (Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau). Dari keempat tahap tersebut, Kemenperin telah melibatkan sebanyak 565 industri dan 1.795 SMK.

Kompas TV Kain batik tak hanya dibuat untuk pakaian atau busana bagian atas. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, kain batik dijadikan bahan alas kaki yang kini menjadi tren, dan diminati masyarakat tanah air dan mancanegara. Pusat perajin alas kaki batik, terletak di kawasan Mangkubumi. Sejak tahun 2007, ada 3 pusat industri rumah tangga sepatu dan sandal batik muncul di kawasan ini, setelah hasil survei sebelumnya menunjukan, belum ada alas kaki yang berbahan atau bermotif batik. Identitas alas kaki batik tidak didapat dengan mudah, karena pada awal produksi, hasilnya ditolak toko dan pasar, yang mendorong penjualannya, hanya dilakukan melalui jalur internet. Baru dua tahun kemudian, sandal dan sepatu batik ini makin dikenal warga, dan mulai diterima pasar.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X