Lulusan SMK Banyak Menganggur, Bappenas Cek Ulang Sistem Pendidikan Vokasi

Kompas.com - 13/11/2017, 19:01 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro (kemeja kuning) saat memberikan pernyataan pers di kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Senin (13/11/2017). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro (kemeja kuning) saat memberikan pernyataan pers di kantor Bappenas, Jakarta Pusat, Senin (13/11/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ( Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai ada yang salah dengan pendidikan vokasi (pekerjaan sesuai keahlian) di Indonesia.

Hal itu dikarenakan lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) justru mendominasi jumlah pengangguran.

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui data Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2017, menyebut bahwa tingkat pengangguran terbuka turun 0,11 poin, dari 5,61 persen pada realisasi tahun 2016 menjadi 5,50 persen pada realisasi tahun 2017.

Dilihat dari tingkat pendidikan, lulusan SMK yang paling tinggi menganggur dibanding tingkat pendidikan lain, yakni sebesar 11,41 persen.

Baca juga : Bappenas Beberkan Hal-hal yang Perlu Diperbaiki dari Kualitas SMK

"Ada yang salah dengan pendidikan vokasi kita. Apa yang diajarkan di sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan pasar," kata Bambang saat ditemui pewarta di kantornya, Senin (13/11/2017).

Bambang menjelaskan, kurikulum pendidikan vokasi menjadi salah satu faktor penentu mengapa justru banyak lulusan SMK yang menganggur.

Dia menilai, bisa jadi kurikulum yang dipakai sudah tidak cocok dengan kondisi dunia usaha saat ini, di mana banyak bermunculan lapangan kerja baru yang butuh keahlian tertentu.

Dari sisi pencari tenaga kerja, menurut Bambang, juga melihat belum ada yang spesial dari lulusan SMK. Sehingga, mereka mencari karyawan justru dari lulusan yang menempuh pendidikan umum, seperti SMA (Sekolah Menengah Atas).

Baca juga : Kemenaker: Alumni SMK Terbanyak Menganggur

"SMK seakan-akan baru lulus sekolah menengah, belum siap kerja," tutur Bambang.

Untuk menangani hal tersebut, Bambang menyebut pemerintah kini sedang berupaya memperbaiki aspek-aspek pada pendidikan vokasi, termasuk kurikulum, pendidik, hingga kerja sama yang lebih diarahkan ke sektor swasta.

Hal itu dilakukan untuk memperbarui kemasan pendidikan vokasi agar bisa mengimbangi perkembangan dunia usaha masa kini.

Baca juga : Lulusan SMK dan Diploma Lebih Rentan Nganggur Ketimbang Lulusan SD

Kompas TV Presiden mendorong agar pendidikan vokasi lebih berkembang.

 

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X