Olah Pisang dengan Modal Rp 300.000, Kini Sri Raup Omzet Rp 500 Juta

Kompas.com - 18/11/2017, 17:05 WIB
Proses pembuatan Pisang Aroma di Kabupaten Temanggung, Sabtu (18/11/2017). Omzet UMKM ini mencapai Rp 500 juta perbulan. KOMPAS.com/NAZAR NURDINProses pembuatan Pisang Aroma di Kabupaten Temanggung, Sabtu (18/11/2017). Omzet UMKM ini mencapai Rp 500 juta perbulan.
|
EditorErlangga Djumena

TEMANGGUNG, KOMPAS.com - Usaha warga untuk keluar dari zona kemiskinan dilakukan dengan cara berwirausaha. Salah satu yang berhasil itu ialah usaha mikro kecil menengah (UMKM) Pisang Aroma milik Sri Mulyati, di Dusun Sarangan, Desa Gesing, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.

Ya, Pisang Aroma nama produknya. Sri memanfaatkan pohon pisang yang bertebaran di wilayah itu untuk dijadikan produk olahan makanan. Lambat laun, usaha membesar dan produk dari desa itu membanjiri pusat oleh-oleh di Yogyakarta.

Sri ingat betul bagaimana dia mengawali usahanya secara susah payah di tahun 2001. Sebelum memutuskan untuk berusaha, dia mengawali dengan berjualan secara berkeliling dari rumah ke rumah. Kegiatan itu dilakoninya selama beberapa tahun hingga akhirnya memutuskan berhenti.

Dengan modal pengalaman itu, Sri memutuskan untuk berwirausaha sendiri. Modal awalnya kala itu hanya Rp 300.000. Sri memantapkan usaha bisnisnya membuat produk olahan pisang. "Pisang ini selain banyak disini, juga karena ada sepanjang tahun. Pisang tidak ada paceklik," ujar Sri, di kediamannya, Sabtu (18/11/2017).

Baca juga: Sempat Dilarang Berbisnis, Pemuda Ini Raih Omzet Ratusan Juta dari Celana Jeans

Pisang pun dipilih sebagai produk bisnisnya. Dalam perkembangannya, dia mencoba beragam macam buah pisang. Namun setelah dicoba hanya ada dua varietas pisang yang cocok digunakan, yaitu pisang raja nangka dan pisang belitung.

Selain dipasok dari daerah sekitar, pisang jenis itu juga ramai di pasar lokal. Bahan baku produknya pun terjamin lancar.  "Pisang Aroma ini dari awalnya Bandung. Kalau sehari habis 3 kuintal pisang," katanya.

Produk olahan pisang pun kini dipasarkan ke sejumlah daerah. Usahanya berkembang karena produknya laris dijual di pusat-pusat oleh-oleh.  "Omzet sekarang Rp 500 juta per bulan. Kita ada 35 pegawai," katanya.

IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

Proses sederhana

Pisang Aroma dibuat secara tradisional. Seluruh proses dilalui melalui kerja tangan manusia. Usaha itu mempekerjakan tenaga kerja lokal, terutama para ibu rumah tangga.

Sebelum membuat pisang aroma, adonan kulit pisang yang dibuat terlebih dulu. Bahannya, 25 kg tepung, air, garam plus minyak kemudian dicampur di dalam satu adonan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Whats New
Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

Rilis
Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Whats New
Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Whats New
Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Whats New
Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Whats New
Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Whats New
Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Whats New
IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

Whats New
Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Rilis
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Work Smart
Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Whats New
Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X