Industri Kelapa Sawit Harus Perhatikan Hal Ini

Kompas.com - 21/11/2017, 20:46 WIB
Presiden Jokowi memulai program peremajaan kebun kelapa sawit di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (13/10/2017). KOMPAS.com/YOGA SUKMANAPresiden Jokowi memulai program peremajaan kebun kelapa sawit di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (13/10/2017).
|
EditorJosephus Primus

KOMPAS.com - Industri kelapa sawit harus memperhatikan peningkatan kesejahteraan anak-anak yang tinggal di perkebunan kelapa sawit. Di lokasi itu pula, para orangtua mereka bekerja.

Catatan soal anak ini mengemuka sebagaimana rilis dari Wilmar Group Indonesia (WGI) yang diterima Kompas.com hari ini. "Wilmar meluncurkan  Kebijakan Perlindungan Anak (Child Protection Policy),"  MP Tumanggor, Komisaris Wilmar Group Indonesia, hari ini.

Kebijakan baru ini, kata Tumanggor, menjadi yang pertama di industri kelapa sawit yang secara eksplisit akan meluas ke pemasok dan kontraktor.  CPC menggantikan Kebijakan Ketenagakerjaan Pekerja Anak yang telah berlangsung lama, yang telah ada sejak awal perusahaan.

Kebijakan baru ini dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak dan berusaha melindungi semua anak di dalam operasi Wilmar serta layanan terkait. Kebijakan tersebut akan berlaku di seluruh operasi global Wilmar, termasuk usaha patungan, pemasok, dan kontraktor pihak ketiga.

"Wilmar tidak mentolerir pekerja anak dalam situasi apapun. Namun, anak-anak yang ada di komunitas perkebunan kami merupakan tanggung jawab kami untuk memastikan mereka dilindungi,” kata MP Tumanggor lagi.

Menanggapi hal itu, Komisioner Trafficking dan Eksploitasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ai Maryati Solihah, menyambut baik langkah perusahaan untuk tidak mempekerjakan anak di bawah umur. KPAI memberi apresiasi pada upaya perusahaan kategori pekerjaan berat, seperti industri perkebunan dan lainnya, mengeluarkan regulasi tak mempekerjakan anak-anak.

"Saya kira positif dong kalau anak-anak tidak boleh dilibatkan dalam produksi CPO. Tapi itu tetap harus diawasi, harus dipantau," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.