Mitos Bank vs FinTech: Kolaborasi, Bukan Kompetisi, untuk Inklusi Keuangan Indonesia

Kompas.com - 22/11/2017, 12:00 WIB
. Fintech Talk.
EditorAprillia Ika

Industri teknologi finansial (tekfin) layanan peer-to-peer (p2p) lending di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dibandingkan awal tahun lalu. Otoritas Jasa Keuangan melaporkan saat ini sedikitnya terdapat sekitar 85 perusahaan p2p lending yang beroperasi di seluruh Indonesia dengan penyaluran kredit sebesar Rp 1,6 triliun pada kuartal ke-3/2017 atau naik lebih dari 600 persen YoY.

Tekfin, bersinergi dengan perbankan, sesungguhnya menjadi kunci bagi inklusi keuangan untuk penguatan ekonomi nasional. Model bisnis platform p2p lending seperti misalnya Modalku, tidak sama dengan perbankan dan keduanya hanya memiliki kesamaan produk yang terbatas – namun demikian sejatinya saling melengkapi.

Perkembangan teknologi, seperti artificial intelligence dan automation, dapat menghilangkan sebagian pekerjaan yang dahulu dilakukan secara konvensional terlepas dari keberadaan tekfin, bukan berarti layanan tekfin kemudian akan menggerus bank.

Ilustrasi di bawah menjelaskan konsentrasi segmen target yang berbeda antara layanan p2p lending dan perbankan:

Ilustrasi Kualitas Kredit UKMDok. Ilustrasi Kualitas Kredit UKM
 


Fokus sasaran layanan p2p lending adalah segmen usaha kecil-menengah (UKM) yang memiliki kapasitas untuk berkembang namun kurang pendanaan dan belum layak untuk mendapatkan kredit bank. p2p lending berperan sebagai jembatan bagi kelompok ini untuk bertumbuh. Semakin banyak nasabah p2p lending yang lulus dari tahap creditworthy ke bankworthy, maka segmen perbankan pun otomatis akan tumbuh.

Contoh baik sinergi perbankan dan tekfin dapat dilihat di Cina di mana sektor perbankan dan industri tekfin p2p lending-nya berkembang bersama. Layanan p2p lending di negara ini dilaporkan tumbuh pesat antara periode 2011-2016 dan di saat yang bersamaan kredit perbankan pun tumbuh dua kali lipat.

P2P lending dan bankDok. P2P lending dan bank
 

Layanan Serupa Tapi Tak Sama

Meski perbankan dan p2p lending selintas tampak menawarkan layanan yang sama, namun sebenarnya terdapat perbedaan mendasar di antara keduanya. Pertama; suku bunga. Layanan p2p lending yang umumnya menawarkan pinjaman tanpa agunan dan menyasar segmen yang lebih berisiko, secara natural akan menawarkan suku bunga yang lebih tinggi. Oleh sebab itu segmen yang sudah bankable umumnya akan memilih pinjaman dari bank ketimbang dari platform ini.

Kedua; periode tenor pengembalian pinjaman. Layanan p2p lending di Indonesia biasanya menerapkan tenor yang relatif pendek sekitar 1 hingga 24 bulan, karena tenor yang panjang akan mengurangi minat pemberi pinjaman dan menambah risiko pinjaman tanpa agunan. Sebaliknya, perbankan lebih suka menawarkan tenor panjang untuk mengoptimalkan net interest margins.

Ketiga; besarnya jumlah pinjaman. Layanan p2p lending nyaris tidak mungkin memberikan pinjaman dengan jumlah yang sangat besar misalnya puluhan atau ratusan miliar. Diperlukan begitu banyak pemberi pinjaman sehingga dapat menunda pencairan pinjaman.

Sebaliknya, kekuatan perbankan untuk memberikan pinjaman dengan nilai tinggi tidak diragukan lagi dan dapat dilakukan secara cepat dan murah sehingga tidak mungkin p2p lending dapat bersaing dengan ini.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X