Kisah Ahmad Mu’tamir, Petani Kentang dengan Omzet Ratusan Juta Rupiah

Kompas.com - 24/11/2017, 17:08 WIB
Kompas TV Musim hujan selalu membuat para petani cabai khawatir, karena cuaca yang dingin dan lembab membuat hama pathek menyerang dan membuat cabai rusak dan busuk.
|
EditorErlangga Djumena

“Setiap hari keripik kentang habis 2 sampai 3 kuintal. Sekarang pegawai saya 12 pegawai, kalau musimnya ramai kadang 25 sampai orang pegawai, habisnya 7 kuintal,” kata dia.

Untuk berbagi tugas, Ety Subekti bertugas melakukan produksi keripik kentang dan pemasarannya. Sementara Mu’tamir mengurus pertanian. Keripik kentangnya diberi nama Albaeta.

“Omzet normalnya Rp 120-150 juta per bulan, kalau lagi ramai bisa Rp 400-500 juta,” kata dia.

Baca juga: Kisah Ali Muharam Bangun Bisnis Makaroni Ngehe hingga Hasilkan Rp 3 Miliar Per Bulan

Pemasaran keripik kentang juga telah merambah kawasan Dieng, Semarang, Yogyakarta hingga luar daerah. Keripiknya juga sempat dipesan luar negeri, namun dia tidak berani menyanggupi karena belum siapnya bahan baku dalam jumlah yang besar.

Meski sudah sukses, Muktamir berharap pemerintah agar dapat membantu persoalan bibit kentang berkualitas. Sebab, hasil panen berkualitas tergantung dari bibit dan proses perawatannya.

“Kendala petani disini di bibit. Kami harap pemerintah bisa membantu soal bibit kentang,” tambahnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X