Fintech Amartha Tawarkan Peluang Investasi P2P Lending

Kompas.com - 15/12/2017, 07:31 WIB
CEO dan pendiri fintech Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, di Pasar Santa, Jakarta Selatan, Selasa (7/3/2016). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANCEO dan pendiri fintech Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, di Pasar Santa, Jakarta Selatan, Selasa (7/3/2016).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), perusahaan teknologi finansial ( fintech) dengan layanan peer to peer (P2P) lending marketplace menawarkan konsep investasi yang unik, aman, dan menguntungkan bagi masyarakat.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra mengatakan Sejak pertama berdirinya, Amartha terus berkomitmen untuk menghubungkan para pengusaha mikro unbanked, dengan para investor yang ingin menambah aset investasi di sektor yang lebih menguntungkan dan tentunya bernilai sosial.

Keunikan lain terletak pada pengusaha mikro atau Mitra Amartha, yang seluruhnya adalah perempuan. Kini, lebih dari 70.000 perempuan pelaku usaha mikro di pelosok Indonesia telah menikmati layanan Amartha, dengan total dana yang didistribusikan lebih dari Rp 200 miliar.

Lebih lanjut Taufan mengatakan bahwa saat ini Amartha berhasil mempertahankan tingkat gagal bayar yang sangat rendah.

Baca juga : OJK: Fintech P2P Lending di Indonesia Capai Rp 1,6 Triliun

 

Hal ini disebabkan oleh salah satu manajemen risiko yang juga unik, yaitu dengan menerapkan group lending system (pinjaman kelompok) yang memiliki mekanisme tanggung renteng, dimana setiap peminjam akan dikelompokkan ke dalam satu kumpulan yang disebut Majelis.

Kelompok ini terdiri dari 15 - 25 orang peminjam yang tinggal berdekatan. Dengan sistem ini, setiap anggota bertanggung jawab untuk melakukan tanggung renteng atau menanggung risiko secara kelompok, apabila salah satu anggota mengalami kredit macet.

Perkembangan industri P2P lending untuk pembiayaan mikro memang diprediksi akan terus tumbuh sejalan dengan potensi pasar yang masih besar.

Berdasarkan data dari lembaga riset Morgan Stanley, dana yang beredar di P2P lending untuk mikro secara global akan meningkat signifikan, bahwa diperkirakan pada tahun 2020 nanti dana yang dihimpun akan mencapai sekitar Rp 490 miliar.

Selain itu, data laporan PwC Global Fintech 2017 menunjukkan sebanyak 82 persen atau mayoritas perusahaan jasa keuangan seperti bank dan asuransi berencana untuk meningkatkan kemitraan dengan fintech dalam 3-5 tahun mendatang.

Baca juga : OJK Diminta Segera Bentuk Lembaga Pengawas Fintech P2P Lending

 

Pertumbuhan dan potensi pasar ini menunjukkan bahwa P2P micro lending hadir sebagai jenis aset investasi baru yang aman dan dapat dipercaya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X