Industri Game dan Animasi Kesulitan Akses Pembiayaan Perbankan

Kompas.com - 15/12/2017, 11:00 WIB
Ilustrasi bermain game di PC Thinkstock/Mikael DamkierIlustrasi bermain game di PC
|
EditorAprillia Ika

SURAKARTA, KOMPAS.com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DKI Jakarta menyatakan, DKI Jakarta harus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Pasalnya, peran sektor manufaktur sebagai motor pendorong perekonomian ibu kota perlahan akan berkurang.

Salah satu sektor yang dipandang sangat potensial berperan dalam menggenjot ekonomi DKI Jakarta adalah industri kreatif, yakni game dan animasi.

Meskipun demikian, industri game dan animasi masih memiliki ganjalan untuk dapat berkembang.

Baca juga : Industri Game dan Animasi Potensial Genjot Ekonomi Indonesia

"Pengembangan industri kreatif animasi dan game menghadapi permasalahan yang relatif sama, di antaranya kesulitan mengakses pembiayaan perbankan," kata Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta Doni P Joewono pada acara media gathering di Surakarta, Kamis (14/12/2017).

Doni menuturkan, pembiayaan adalah aspek krusial agar industri game dan animasi dapat terus tumbuh. Oleh sebab itu, perlu kerja sama dengan pihak perbankan agar dapat diterapkan model pembiayaan yang tepat.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI) Ardian Elkana menyebut, perbankan dan lembaga keuangan formal lain masih banyak yang belum tertarik memberikan pembiayaan bagi industri animasi dan game.

Baca juga : Animasi Bisa Jadi Sarana untuk Genjot Pariwisata

 

Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta menyebutkan bahwa hak cipta seperti yang dimiliki industri game dan animasi dapat dijadikan sebagai jaminan fidusia, sehingga bisa dijadikan agunan perbankan.

"Kalau ke bank dan butuh pendanaan, ada service (jasa), ada IP (intellectual property/hak kekayaan intelektual), mereka pilih service," ujar Ardian.

Pembiayaan kepada industri game dan animasi, imbuh Ardian, saat ini biasanya diberikan oleh private equity maupun angel investor.

Padahal, industri tersebut sebenarnya butuh investasi atau pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan formal lain.

Ardian brerharap industri perbankan dapat melirik peluang industri animasi dan kreatif.

Kompas TV Penyakit mata malas biasanya terjadi pada penderita rabun dekat.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X