Perbankan Harus Bidik Pembiayaan Hunian Vertikal, Mengapa?

Kompas.com - 19/12/2017, 12:29 WIB
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono dan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Mardiana Pambudy pada seminar Dukungan Akses Perbankan Terhadap Program Sejuta Rumah di Hotel JS Luwansa, Selasa (19/12/2017). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANDirektur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono dan Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Mardiana Pambudy pada seminar Dukungan Akses Perbankan Terhadap Program Sejuta Rumah di Hotel JS Luwansa, Selasa (19/12/2017).
|
EditorAprillia Ika

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebutuhan masyarakat akan hunian masih sangat besar. Akan tetapi, besarnya kebutuhan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan dan hunian, sehingga terjadi backlog atau kekurangan pasokan rumah hingga 13,38 juta.

Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia mengungkapkan, dengan kondisi lahan yang semakin terbatas dan harganya terus menanjak, hunian vertikal seperti apartemen maupun rumah susun menjadi pilihan banyak pengembang, khususnya di kota-kota besar dan kota-kota penyangga.

" Hunian vertikal menjadi keniscayaan di kota-kota besar. Mau tidak mau pengembangan rumah di kota dan pinggiran-pinggiran kota kecenderungannya naik ke atas (hunian vertikal)," ujar Ferry pada seminar "Dukungan Akses Perbankan Terhadap Program Sejuta Rumah" yang diselenggarakan BTN dan Harian Kompas di Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Baca juga : Menurut BTN, Ini Empat Tantangan Sektor Properti Tahun Depan

Ferry menyatakan, kecenderungan yang bakal terjadi di kota-kota besar termasuk Jakarta adalah hunian vertikal tak lagi bagi masyarakat menengah ke atas, namun juga menengah ke bawah. Kondisi ini sudah lebih dahulu terjadi di Singapura.

Di samping itu, generasi milenial saat ini juga cenderung lebih memilih hunian vertikal untuk menunjang aktivitas dan gaya hidup mereka. Ini terkait dengan aspek kepraktisan, akses terhadap moda transportasi, dan lebih aplikatif terhadap gaya hidup.

"Pasar apartemen mencapai 2 persen dari penduduk Jakarta. Ini pasar besar, tapi daya beli untuk apartemen rendah," ungkap Ferry.

Terkait hal ini, maka peran perbankan dibutuhkan untuk menggenjot penyaluran pembiayaan untuk apartemen. Pasalnya, imbuh Ferry, selama ini perbankan lebih fokus untuk menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR).

Survei yang dilakukan oleh Colliers International Indonesia menunjukkan, pada kuartal II 2017, 50 persen pembiayaan apartemen berasal dari cash installment, sementara 32 persen dari kredit yang dikucurkan bank, dan uang tunai mencapai 19 persen. Cash installment adalah skema pembiayaan yang diberikan pihak pengembang kepada konsumen.

Ferry menyatakan, dengan segala kondisi yang telah disebutkan dan trennya ke depan, ada kesempatan yang besar bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan untuk apartemen. Alasannya, pasar pembiayaan hunian vertikal masih sangat besar.

"Tren ke depan di kota-kota besar dan penyangga, harga tanah mahal, maka huniannya vertikal," ungkap Ferry.

Kompas TV Jajaran direksi selalu memonitor perkembangan proyek setidaknya seminggu sekali.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X