BrandzView
Konten ini merupakan kerjasama Kompas.com dengan PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP)

Dulu Lihat Pabrik dari Jauh, Perempuan Ini Kini Asisten Manajernya...

Kompas.com - 21/12/2017, 09:11 WIB
Nani, lulusan S-2 Teknik Kimia yang kini menjadi asisten manajer di RAPP.Dimas Wahyu Nani, lulusan S-2 Teknik Kimia yang kini menjadi asisten manajer di RAPP.

 KOMPAS.com - Sebuah bangunan besar sarat logam menjulang di antara bangunan dan pepohonan sekian kilometer dari Jalan Lintas Timur. Jalan itu sendiri menjadi akses penting bagi warga Riau untuk bepergian menggunakan jalur darat di lingkup Sumatera.

Dari situ pulalah dulu, di awal tahun 2000, seorang perempuan bernama Nani selalu memperhatikannya saat lewat menuju kampusnya, Universitas Sriwijaya (Unsri).

Kala itu, warga Bangkinang ini kerap bertanya-tanya kepada kawannya, bangunan apa itu sebenarnya.

Tanpa disangka, sekian belas tahun kemudian atau tepatnya pada 2007, di bangunan itulah Nani kemudian bekerja.

Ia bahkan dikirim mengejar gelar S-2 di bidang yang justru cenderung digeluti para lelaki, yakni teknik, tepatnya kimia, dengan pengkhususan bidang kertas.

"Dulu saya kuliah di Sriwijaya suka lewat Lintas Timur. Dulu saya suka lihat tempat ini karena kan beda ya. Terus orang bilang, ini RAPP. Orang kenalnya ini RAPP (Riau Andalan Pulp and Papper)," ujar Nani, Rabu (13/9/2017).

Nani, yang bernama lengkap Sri Wahdini Rahmi, ketika itu tengah mengejar gelar S-1 Teknik Kimia, yang artinya akrab dengan dunia industri. Namun, baru kali itu dirinya melihat sebuah pabrik besar yang bukan dalam bentuk gambar ataupun maket.

"Walau saya kuliah Teknik Kimia, pabriknya (yang biasa dilihat) itu kayak pabrik tekstil. Kalau yang pabrik pulp and paper ini baru pertama. Yang paling terkesan ya bagian recovery boiler-nya. Oo kayak begini," kata perempuan kelahiran April 1983 ini.

Bisa bekerja di RAPP adalah sesuatu yang menguntungkan karena menurut dia tempat tersebut merupakan incaran mahasiswa Riau yang baru lulus kuliah. Pasalnya, tidak banyak perusahaan besar yang menjadi pilihan di wilayah tersebut.

Namun, keberuntungan Nani rupanya tidak hanya mengguyurnya sekali, tetapi mungkin bisa dibilang berkali-kali. Ini terutama saat Nani kemudian diberi beasiswa pendidikan S-2 ke luar negeri.

Bisa sekolah tinggi saja sudah menjadi keberuntungan buat Nani. Faktanya, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukkan hampir setengah dari jumlah penduduk Indonesia (49 persen) tidak lulus pendidikan dasar sembilan tahun.

Baca: Jutaan Anak Hanya Lulus SD

Terlebih lagi, kaum perempuan menurut sumber yang sama di tahun 2014 masih selevel di bawah laki-laki dalam hal penuntasan pendidikan dasar.

Loncat-loncat

Nani memang untung bisa ditunjuk atasan untuk ikut "graduate trainy program". Ia pun satu-satunya perempuan dari lima kandidat yang diajukan untuk memperoleh program beasiswa penuh S-2 ke luar negeri tersebut.

Fasilitasnya mencakup biaya pendidikan Rp 60 juta per semester, biaya hidup, dan gaji yang tetap ditransfer secara penuh setiap bulannya.

Syaratnya hanya ikatan dinas lima tahun, sudah termasuk dua tahun untuk pendidikan S-2, yang baru bisa diperoleh setelah melalui beberapa tahapan.

"Tahapan pertama adalah masuk graduate trainy program. Kalau di bank ya kayak management trainee ya. Setelahnya, manajemen adakan psikotes untuk kami. Kemudian ada wawancara. Habis itu, ada tes dari universitas yang dituju. Kalau jebol, baru kami berangkat," urainya.

Nani akhirnya resmi diterima di Asian Institute Technology Thailand, sebuah institut dengan kontribusi dari negara lain, yakni Finlandia, Jepang, hingga Kanada.

Nah, di sini pula keberuntungan Nani masih berlanjut. Selama kuliah di Thailand, ia turut menjajaki negara-negara lain melalui beasiswa summer course yang diberikan oleh tiap-tiap universitas pengundang.

"Saya bisa ke Tohoku University, Jepang, dan empat bulan di British of Columbia (Kanada). Riset S-2 di situ. Jadi, dari satu loncatan bisa ke loncatan lain," kata Nani lalu menjelaskan bahwa risetnya berupa foam paper. Fungsinya antara lain untuk pelapis rumah di negara bersuhu dingin.

Level orang Indonesia

Perihal pekerjaan, Nani berada di divisi yang disebutnya continuous improvement. Dengan kata lain, divisinya berkutat di bidang perbaikan yang bersifat berkelanjutan.

Pekerjaannya adalah bagaimana agar proses produksi bersifat efektif dan efsien seraya meningkatkan kualitas.

Ketika ditanya level jabatannya, ia hanya menyebut selevel D1. Kemudian dengan malu-malu, ia akhirnya mengakui level jabatannya, setelah ditanya lebih jauh.

"Saya D1. Kalau manajer itu D2. Hmmm ya asisten manajerlah kira-kira levelnya ya," ujar Nani.

Dari semua yang diperolehnya ini, Nani melihat bahwa beasiswa dari perusahaan tempatnya bekerja cukup menyeluruh.

Dulu ia berpikir hanya orang bagian produksi selevel dirinya yang akan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

"Rupanya berlanjut kemarin ada dua orang lagi yang dikirimkan. Mereka dapat di ITB. Jadi, saya pikir beasiswa semacam ini enggak timpang," ujarnya.

Perhatiannya terhadap kesetaraan pendidikan membuatnya ingin menitipkan pesan terutama kepada anak-anak yang masih muda untuk meraih level pendidikan setinggi mungkin selagi ada kesempatan.

Ia mengaku, menempuh pendidikan tinggi di luar negeri sangatlah menguji mental.

"Saya pergi keluar negeri tidak confident karena saya tidak tahu bagaimana negeri orang. Pendidikan juga pakai bahasa Inggris, jadi terpikir apa bisa mengejar target-target pendidikan itu, ya? Sementara itu, ibu saya tinggal sendiri," ujarnya.

Namun, karena beasiswa itu pula, ia kemudian bisa melihat dunia lain dengan pola pikir yang tidak sama dengan di Indonesia. Menurut dia, kultur orang Indonesia berbeda dengan di luar negeri.

"Misalnya, orang kita kalau tidak cocok dengan suatu ide akan langsung argumen. Kalau orang luar akan bilang, 'Ok that's good idea, tetapi bisakah kita cari ide yang lebih bagus?' Jadi mereka tidak langsung negatif dan membuat orang demotivasi. Mungkin karena pendidikan kita ya," kata Nani.

Meski demikian, menurut Nani, banyak orang Indonesia yang memiliki kemampuan lebih bagus dibanding orang-orang dari negara lain.

"Soalnya di institusi itu ada orang Indonesia, Polandia, Jerman, Thailand. Orang kita itu masuk tiga besarlah di sana, yang mahasiswanya top-top," ujar perempuan yang lalu bicara lembut ketika ditanya apakah dirinya sudah menikah.

"Belum berkeluarga. (Banyak yang takut karena level pekerjaan dan pendidikannya?) Itulah susah, kan (tertawa). Akhirnya atasan saya yang bising (terus mengingatkan), 'Harus married! Kamu kerja continuous improvement melulu, untuk diri kamu tidak'," ujarnya seraya mengaku bahwa pada 2015 akhirnya bisa mengajak sang ibu umrah.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorDimas Wahyu