Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KA Bandara yang Luar Biasa, "Gaduhnya" Bitcoin, 5 Berita Populer Ekonomi

Kompas.com - 27/12/2017, 06:00 WIB
Aprillia Ika

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta memiliki moda transportasi anyar menuju ke Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, yakni Kereta Bandara.

Moda kereta menuju bandara ini membuat jarak tempuk dari Jakarta ke bandara menjadi lebih pasti, yakni 55 menit.

Stasiun serta aneka fasilitas di dalam kereta juga membuat masyarakat senang karena sangat memanjakan mereka selama 55 menit perjalanan menuju bandara.

Harapannya, KA bandara ini akan jadi milestone, sehingga di semua kota lain di Indonesia akan ada aneka moda transportasi menuju bandara yang aman, nyaman, murah dan tepat waktu.

Baca juga : Masih Ada Warga yang Belum Tahu Pembelian Tiket KA Bandara Tak Bisa Tunai

Hal itu tentu saja bisa diwujudkan dengan pembangunan infrastruktur, yang saat ini masih bertumpu pada pajak dan utang.

Selain berita mengenai KA bandara, gonjang-ganjing bitcoin masih jadi sorotan pembaca kanal ekonomi Kompas.com.

Pasalnya, banyak investor kini mulai melirik mata uang virtual lain yang lebih aman ketimbang bitcoin.

Baca juga : Harga Bitcoin Bakal Tembus Rp 810 Juta?

Berikut lima berita populer Kompas.com pada Selasa (26/12/2017) yang bisa Anda baca kembali pagi ini.

1. Hari Ini Warga Bisa Coba KA Bandara Soekarno-Hatta, Tiket Rp 30.000

Pada Selasa (26/12/2017), PT Railink dan Kementerian Perhubungan mengadakan soft launching. Warga bisa menikmati KA bandara ini sebelum diresmikan.

"Mulai tanggal 26 Desember 2017, PT Railink akan melakukan soft launching dengan tarif promo Rp 30.000 per penumpang," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri melalui keterangan resmi, Senin (25/12/2017).

Dari keterangan resmi yang diterima Kompas.com, tarif Rp 30.000 per penumpang tersebut berlaku hingga 1 Januari 2018. Sementara mulai 2 Januari 2018 akan berlaku tarif normal Rp 70.000 per penumpang.

Baca juga : Hari Ini Warga Bisa Coba KA Bandara Soekarno-Hatta, Tiket Rp 30.000

Baca juga : KA Bandara Soekarno-Hatta Resmi Beroperasi 2 Januari, Harga Tiket Rp 70.000

2. China Nomor 1 Ekonomi Dunia pada 2032, Indonesia Nomor 10

Pada 2032, tiga dari empat kekuatan ekonomi dunia ada di Asia. Yakni China, India dan Jepang. Ekonomi India, menurut CEBR, bisa saja melampui China pada 2050 mendatang.

Naiknya Indonesia dan Korea Selatan membuat Italia dan Kanada terlempar dari jajaran 10 besar ekonomi dunia di 2032.

Baca juga : China Nomor 1 Ekonomi Dunia pada 2032, Indonesia Nomor 10

3. Pandangan Sri Mulyani tentang Ekspor-Impor Pakai Rupiah, Ringgit dan Baht

Menteri Keuangan (menkeu) Sri Mulyani menyambut positif kerja sama tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand untuk menggunakan mata uang lokalnya dalam transaksi perdagangan.

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) meneken kerja sama penggunaan mata uang lokal (local currency settlement framework) untuk transaksi dagang antarnegara dengan Bank Negara Malaysia (BNM) dan Bank of Thailand pada Senin (11/12/2017) lalu.

Menurut Sri Mulyani, kesepakatan tiga negara tersebut merupakan kesepakatan yang dipandang strategis oleh tiga negara tersebut berdasarkan komposisi kebutuhan.

Baca juga : Pandangan Sri Mulyani tentang Ekspor-Impor Pakai Rupiah, Ringgit dan Baht

Baca juga : Ekspor-Impor Pakai Rupiah, Ringgit dan Baht, Apa Manfaatnya?


Ilustrasi Bitcon. (AP via The Guardian) Ilustrasi Bitcon. (AP via The Guardian)

4. 5 Alasan yang Bikin Orang Masih Enggan Koleksi Bitcoin

volatilitas bitcoin yang membuat orang harus pikir-pikir dahulu sebelum membelinya.

Menurut Bloomberg, ada lima alasan mengapa banyak orang masih enggan mengoleksi bitcoin hingga saat ini walaupun nilainya menggiurkan. Apa saja?

Baca juga : 5 Alasan yang Bikin Orang Masih Enggan Koleksi Bitcoin

Baca juga : Aksi Jual Bitcoin Terus Berlanjut, Ethereum Mulai Dilirik

5. Morgan Stanley: Harga Bitcoin Bakal Hanya 0

Harga mata uang digital bitcoin beberapa waktu terakhir mengalami gejolak menyusul aksi jual yang dilakukan para investor. Aksi ambil untung ini menyusul nilai bitcoin yang sempat mencapai 20.000 dollar AS atau sekitar Rp 270 juta.

Sebuah laporan riset yang dirilis Morgan Stanley mengisyaratkan sulitnya menjustifikasi valuasi bitcoin. Minimnya orang, penjual, atau lembaga yang bersedia menerima bitcoin sebagai alat pembayaran dapat memicu nilai mata uang digital tersebut merosot jadi nol.

Baca juga : Morgan Stanley: Harga Bitcoin Bakal Hanya 0

Baca juga : Jelang Akhir Tahun, Berapa Nilai Tukar Bitcoin?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com