Digitalisasi, Kimia Farma Targetkan Penghematan 20 Persen

Kompas.com - 28/12/2017, 19:44 WIB
PT Kimia Farma (Persero) menggandeng PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) dalam digitalisasi di perusahaan BUMN farmasi terbesar di Indonesia tersebut. Kerja sama dituangkan dalam bentuk penandatanganan MoU yang digelar di Bandung, Kamis (27/12/2017). KOMPAS.com/Reni SusantiPT Kimia Farma (Persero) menggandeng PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) dalam digitalisasi di perusahaan BUMN farmasi terbesar di Indonesia tersebut. Kerja sama dituangkan dalam bentuk penandatanganan MoU yang digelar di Bandung, Kamis (27/12/2017).
Penulis Reni Susanti
|
EditorErlangga Djumena

BANDUNG, KOMPAS.com - PT Kimia Farma (Persero) menggandeng PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) dalam digitalisasi di perusahaan BUMN farmasi terbesar di Indonesia tersebut.

Direktur Utama Kimia Farma, Honesti Basyir mengatakan, digitalisasi tersebut meliputi penyediaan infrastruktur cloud dan jaringan (network), hardware, serta sistem aplikasi terpadu yang sekaligus terintegrasi dengan sistem Enteprise Resource Planning (ERP) yang sudah diterapkan oleh Kimia Farma sejak Oktober 2016.

Selain itu, sistem aplikasi yang disediakan Telkom terdiri dari smart stock, omni channel, customer loyalty, big data analytics, integrasi klinik, program rujuk balik, serta layanan home care.

"Target penghematan biaya dengan digitalisasi ini minimal 20 persen," ujar Honesti di Bandung, Kamis (28/12/2017).

Baca juga: Bangun Bisnis Logistik, Telkom Akuisisi Bosnet

Honesti menjelaskan, selain penghematan, digitalisasi ini dinilai mengurangi praktik peredaran obat palsu. Dari data Badan POM dan Kementerian Kesehatan, kerugian perusahaan farmasi akibat peredaran obat palsu mencapai 20 persen.

"Karena sistemnya ga ada untuk memonitor pergerakan bisnis obat," tuturnya.

Dengan digitalisasi, akan terlihat berapa banyak obat yang beredar. "Kemana, siapa pembelinya, berapa dan kapan

expired nya, bisa kita deteksi semua. Hanya dari satu dashboard. Untuk obat tertentu seperti narkotika bisa langsung dikoordinasikan dengan kepolisian.

Digitalisasi ini akan dilakukan bertahap, dimulai awal 2018. Pada triwulan I/2018, digitalisasi dimulai dari apotek, selanjutkan ke distribusi, klinik, inventory, dan lainnya. Baru di 2019, pihaknya menargatken seluruhnya sudah terdigitalisasi.

Honesti menyebutkan, digitalisasi akan berpengaruh terhadap pendapatan Kimia Farma. Saat ini, net income margin farmasi sangat tipis, hanya 2,5 persen. Pihaknya menargetkan net income margin di atas 5 persen di 2019.

"Saat ini net income margin kita Rp 400 miliar. Kalau bisa dinaikkan, maka di tahun 2019 bisa mendekati Rp 1 triliun," tutupnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X