Kota Koperasi, Fintech, dan Pendekatan Baru

Kompas.com - 08/01/2018, 07:38 WIB
Seorang warga Memanfaatkan KUD untuk Membayar Listrik KOMPAS.com/Markus YuwonoSeorang warga Memanfaatkan KUD untuk Membayar Listrik
EditorErlangga Djumena

Cara baca roadmap itu berpusat pada kekuatan gerakan koperasi sebagai tulang punggungnya. Tentu saja dengan kolaborasi multi pihak, misal sambut tangan dari Pemda, prosesnya bisa lebih cepat. Sebagai sebuah gerakan, inisiasi bottom up Purwokerto Kota Koperasi merupakan contoh bagus tumbuhnya kemandirian, percaya diri dan partisipasi masyarakat luas.

Konsolidasi Pasar Melalui Fintech
Di tahun pertama ini, Jaringan Kerja Purwokerto Kota Koperasi gaungkan konsolidasi pasar bersama koperasi. Yakni bagaimana menggeser “pasar koperasi” bukan hanya anggotanya semata. Misalkan pasar koperasi A hanya anggota koperasi A; Pasar koperasi B hanya anggota koperasi B. Pasar yang terkotak-kotak semacam itu harus dikonsolidasi menjadi satu. Proses konsolidasi itu menjadi mungkin dengan financial technology (fintech).

Dengan fintech sekat “pasar koperasi” menjadi tak lagi relavan. Sebaliknya satu koperasi dengan yang lain bisa saling tukar (interchange) “pasar”. Bayangkan saja anggota koperasi A belanja di koperasi B secara cashless lewat fintech.

Selain memberikan insentif tertentu, kedua koperasi dapat peroleh service fee untuk platform fintech tersebut. Sebaliknya pada saat yang lain anggota koperasi B lakukan tarik/ setor tunai di koperasi A. Maka, koperasi tak perlu menambah kantor atau cabang. Cukup bekerja sama saja.

Bayangkan juga seorang pedagang pasar yang adalah anggota koperasi pasar, transaksi dengan fintech yang sama di angkutan kota, karena sama-sama anggota koperasi. Atau seorang sopir taksi, dari koperasi taksi, yang belanja di koperasi konsumen tertentu secara cashless.

Semua usaha rakyat atau UKM juga bisa menggunakan fintech. Dengan cara demikian, maka “pasar” tak lagi dibatasi kapling masing-masing plang koperasi, melainkan semua untuk semua.

Di Purwokerto hal itu sedang diinisiasi oleh enam koperasi sebagai percontohan. Harapannya layanan kepada anggota menjadi lebih cepat dan responsif. Semua layanan bisa diakses melalui ponsel pintarnya masing-masing.

Berbagai pekerjaan administrasi kantor koperasi juga pada gilirannya akan berkurang. Hasilnya koperasi akan miliki banyak waktu berpikir tentang pengembangan. Di sisi lain, proses sinergi atau kerjasama antar koperasi akan berjalan secara otomatis melalui sistem cloud computation tertentu.

Pada titiknya, semua koperasi mau tidak mau harus mengakselerasi diri dengan fintech. Perubahan zaman yang penuh dengan disrupsi telah mengajarkan masyarakat pada aneka alternatif layanan. Sebagian besar yang telah terhubung dengan internet dan ponsel pintar, merasakan layanan menjadi prima, lebih efisien dan tentu responsif. Koperasi yang tak mau beradaptasi, dipastikan kerdil dan mati, pelan tapi pasti.

Dalam studi kasus Purwokerto Kota Koperasi, fintech merupakan sarana yang menjadi daya ungkit gerakan. Kerja sama antar koperasi sebagaimana dimaklumatkan secara internasional (ICIS, 1995), yakni Prinsip Keenam koperasi, menjadi workable dan produktif.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X