Kota Koperasi, Fintech, dan Pendekatan Baru

Kompas.com - 08/01/2018, 07:38 WIB
Ilustrasi Fintech thinkstockphotosIlustrasi Fintech
EditorErlangga Djumena

Mantra kerja sama tak lagi sekedar jargon melainkan agenda yang dibutuhkan. Sebabnya, fintech tak akan maksimal bila hanya satu-dua koperasi yang menggunakannya. Sebagai ekosistem besar, fintech akan nyata dampaknya bila banyak koperasi terhubung satu sama lain. Koperasi dengan koperasi, koperasi dengan anggota, anggota dengan anggota, anggota dengan pelaku usaha (merchand) dan seterusnya.

Kota Koperasi, Pendekatan Baru
Kuotasi Albert Einstein perlu saya kutip ulang. Ia bilang, “Kita tak akan bisa selesaikan masalah dengan cara berpikir yang sama ketika masalah itu terjadi”. Ia bilang, yang harus dilakukan pertama-tama adalah merubah cara berpikirnya atau pendekatannya. Berkali-kali agenda revitalisasi koperasi digalakkan oleh pemerintah, namun hasilnya sama. Sehingga boleh jadi cara pikir dan pendekatan itu perlu dirubah atau digeser.

Kota Koperasi ini dapat menjadi tawaran pendekatan yang berbeda. Obyek perubahan bukan lagi satu per satu koperasi sebagai sebuah perusahaan, melainkan ekosistemnya. Pendekatan ini meletakkan koperasi-koperasi menjadi entitas yang terhubung satu sama lain. Termasuk juga dengan lembaga-lembaga lain seperti kampus, lembaga swadaya masyarakat, BUMDes, Pemda dan lain sebagainya.

Sehingga spirit perubahan yang digaungkan, misalnya lewat agenda revitalisasi, akan mengalami kelembaman karena ekosistemnya tidak berubah. Sebaliknya, dengan merubah ekosistem, maka subyek-subyek, aktor-pelaku yang di dalamnya juga ikut berubah. Pusat gravitasi Kota Koperasi ini tentu saja adalah koperasi sebagai satu entitas dengan medan gravitasi multi pihak dan sektor.

Dengan cara begitu spirit perubahan akan terus terawat. Satu koperasi dengan yang lain saling belajar, memotivasi, menginspirasi dan mentolok-ukur (benchmarking) capaiannya. Hasilnya adalah daya dukung dan daya ungkit melipatkan gandakan energi perubahan tersebut.

Pada hakikatnya Kota Koperasi bukan sekedar program dari atas ke bawah, melainkan gerakan yang menuntut partisipasi-kolaborasi pelaku-pelakunya. Bukan seperti program dimana koperasi menjadi obyek kebijakan, melainkan sebuah gerakan dimana koperasi menjadi subyeknya.

Kota Koperasi perlu bahkan harus digulirkan di kota-kota lain. Menyusul Purwokerto dan Tangerang Selatan, saya berharap Bekasi dapat mengikutinya dimana koperasi buruh dapat menjadi tulang punggungnya. Tasikmalaya perlu mengagendakannya juga. Adanya Tugu Koperasi di sana menjadi modalitas historis untuk menggerakkan masyarakat dan citra kotanya. Tak ketinggalan Kab. Purbalingga sektor industri berkembang pesat, bisa menyontoh Bekasi.

Setiap kota/ kabupaten bisa memulai gerakan Kota Koperasi dengan modalitas yang ada. Bisa melalui sektor mana yang paling kuat, bisa mulai dari jejak sejarah, dari BUMDesnya dan lain sebagainya. Dengan modalitas itu, maka gerakan Kota Koperasi menjadi menjejak serta kokoh.

Pada tahun-tahun mendatang, bayangkanlah lahir Jaringan Kerja Kota Koperasi Bekasi, Jaringan Kerja Kota Koperasi Tasikmalaya dan seterusnya. Anda tak bisa hanya menunggu, Anda harus menginisiasinya!

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X