2018, Wilayah Migas yang Tak Laku Akan Kembali Dilelang

Kompas.com - 10/01/2018, 08:22 WIB
Ilustrasi produksi minyak Thinkstockphotos.comIlustrasi produksi minyak
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) bakal kembali melelang wilayah kerja (WK) minyak dan gas bumi (migas) yang sebelumnya tak laku.

Total ada lebih dari 20 WK yang bakal kembali ditawarkan pada 2018 ini dengan mekanisme gross split.

Plt Direktur Jenderal Migas, Kementerian ESDM, Ego Syahrial mengatakan lelang pada 2018 ini merupakan tahap kedua; yakni kelanjutan dari lelang tahap satu yang dilakukan pada akhir 2017 lalu.

Dia tidak merinci satu per satu WK mana saja yang bakal ditawarkan. Namun menurutnya, WK tersebut adalah yang tidak laku pada lelang 2016 dan 2015 lalu.

"Jadi nanti bukan hanya 11 (WK), kami juga akan mengombinasikan WK 2015 dan 2016 yang sama sekali tidak diminati. Jumlahnya cukup banyak sekitar 12 sampai 15," terangnya di Gedung Kementerian ESDM, Selasa (9/1/2018).

"Itu akan kami lelang kembali, jadi mungkin ada di atas 20 WK yang nanti ditawarkan," imbuhnya.

Dia optimis bahwa lelang WK ini akan diminati. Alasannya lelang tersebut menggunakan mekanisme Gross Split, yang pada lelang tahap satu 2017 lalu berhasil menjaring investor.

Sebelumnya, pada lelang WK Migas 2017 tahap satu dari 7 WK yang ditawarkan menggunakan skema Gross Split, ada 5 WK yang diambil oleh investor. Menurut Ego, hal tersebut merupakan indikasi positif mengenai kebijakan baru.

"Sedianya kami ingin lakukan lelang dua tahap di 2017. Namun karena PP 53 betul-betul ditunggu untuk berikan kepastian ke pihak investor, kita menyelesaikan satu tahapan saja," terang Ego.

"Lalu dari 7 WK migas yang melalui penunjukkan langsung, 5 di antaranya diminati. Artinya 70 persen. Ini beri sinyal positif terkait kebijakan yang pemerintah lakukan," imbuhnya.

Mekanisme gross split sendiri berbeda dengan mekanisme Production Sharing Contract (PSC) cost recovery yang selama ini digunakan dalam lelang WK Migas.

Pada Gross Split, negara tidak mau tahu urusan biaya operasional, produksi, dan teknologi yang dikeluarkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Pembagian hasil migas dibagikan sesuai kesepakatan antara negara dengan KKKS, tanpa ada tanggungan biaya tersebut.

Dalam PSC Cost Recovery, dalam hal minyak, negara mendapat bagian 85 persen, sisanya untuk KKKS. Namun selain memperoleh 15 persen itu, KKKS juga mendapatkan dana cost recovery atau ganti rugi atas aktivitas produksinya. Dana yang dimaksud dipotong dari jatah 85 persen untuk negara.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Jadi Ketum Masyarakat Ekonomi Syariah, Ini yang Akan Dilakukan Erick Thohir

Whats New
Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Erick Thohir Terpilih Jadi Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

[POPULER DI KOMPASIANA] Bersaudara dengan WNA karena Bersepeda | Gaya Mengajar ala Sensei Nobi | Mengenal Growol dari Kulon Progo

Rilis
Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Soal Direksi Baru BRI, Ini Respons Kadin hingga Pelaku UMKM

Whats New
Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Akhir Januari, 3.000 Unit GeNose Dipersiapkan untuk Dipasarkan

Whats New
Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Luhut Minta Tarif Tes Covid-19 Pakai GeNose di Bawah Rp 20.000

Whats New
Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Luhut Ingin di Setiap RT, Supermarket, dan Fasilitas Umum Pakai GeNose untuk Tes Covid-19

Whats New
Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Stasiun Pasar Senen Akan Dipasang GeNose, Alat Pendeteksi Covid-19 Buatan Indonesia

Whats New
Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Bio Farma: 4 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Siap Didistribusi pada Februari 2021

Whats New
IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

IHSG Merosot 1,04 Persen dalam Sepekan, Ini Sentimen Pemicunya

Whats New
Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Sandiaga Uno Minta UMKM di Batam Berinovasi di Masa Pandemi Covid-19

Rilis
Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Disrupsi akibat Pandemi

Work Smart
Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Pemerintah Akan Terbitkan 0RI019, Begini Cara Belinya

Whats New
Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Akhir Pekan, Harga Emas Antam Turun Rp 4.000

Whats New
Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Rincian Harga Emas Batangan 0,5 Gram hingga 1 Kg di Pegadaian Terbaru

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X