Kemenhub Minta PT DI Rancang Pesawat Khusus untuk Terbang di Papua

Kompas.com - 10/01/2018, 09:48 WIB
Pekerja mengerjakan badan pesawat CN235-220 pesanan Nepalese Army di hanggar sub assembly CN235 PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1). Kementerian Perindustrian memproyeksikan realisasi investasi di sektor manufaktur mencapai Rp400 triliun pada 2018. Target tersebut akan disumbang dari realisasi investasi sektor agro, industri kimia, tekstil, industri logam, alat transportasi, dan elektronika. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/kye/18 ANTARA/Raisan Al FarisiPekerja mengerjakan badan pesawat CN235-220 pesanan Nepalese Army di hanggar sub assembly CN235 PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bandung, Jawa Barat, Selasa (9/1). Kementerian Perindustrian memproyeksikan realisasi investasi di sektor manufaktur mencapai Rp400 triliun pada 2018. Target tersebut akan disumbang dari realisasi investasi sektor agro, industri kimia, tekstil, industri logam, alat transportasi, dan elektronika. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/kye/18
Penulis Achmad Fauzi
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) untuk membuat pesawat yang sesuai dengan kateristik ruang udara di Indonesia.

Misalnya, pesawat-pesawat untuk beroperasi di Papua yang daerahnya bergunung-gunung atau mountainous area, banyak bukit dan jurang terjal.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Agus Santoso mengatakan, pesawat yang cocok untuk kondisi alam di Papua tersebut adalah pesawat yang mampu mengudara dan mendarat di landasan yang pendek.

Selain itu, PTDI didorong untuk membuat pesawat yang mempunyai stall speed rendah, sehingga bisa terbang pelan dan melakukan manuver dengan baik di sela-sela tebing pegunungan di Papua.

"Pesawat N219 yang saat ini diproduksi PTDI adalah pesawat yang cocok untuk hal tersebut. Untuk itu kami akan mengawal dalam proses sertifikasinya sehingga pesawat tersebut menjadi handal dan bisa diproduksi massal," ujar dia dalam keterangannya, Rabu (10/1/2018).

"Dengan sertifikasi yang baik dari otoritas penerbangan yang diakui dunia, maka pesawat N219 tersebut nantinya juga akan bisa dipasarkan ke negara-negara yang membutuhkan dan mempunyai kondisi alam seperti Papua," lanjut dia.

Menurut Agus, selain kedua klasifikasi tersebut, yang tidak kalah penting adalah peralatan navigasi yang lebih maju.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia menambahkan, permintaan ini dilakukan  Ditjen Perhubungan Udara selaku untuk menguatkan operator penerbangan di Indonesia dalam melayani aksesbilitas Papua yang lebih berkesinambungan.

"Sebagai regulator, kita biasa mengenal 3 A operator yaitu Airport, Airlines dan Air Navigations. Di  Indonesia, sekarang ditambah A satu lagi yaitu aircraft manufacturer. Untuk itu kami juga akan membantu, mengawasi dan membina aircraft manufacturer ini agar bisa berkembang dan memberikan kontribusi lebih banyak bagi bangsa dan negara," jelas dia.

Saat ini Kemenhub juga akan memberikan dorongan teknis percepatan sertifikasi kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) sebagai satu-satunya aircraft manufacturer di tanah air dan di ASEAN. Dengan demikian mampu memproduksi dan memasarkan produk-produknya secara lebih progresif  di pasar internasional.

Dorongan teknis yang akan diberikan misalnya adalah bantuan teknis sertifikasi disain, type, sampai produk sesuai aturan-aturan penerbangan internasional  (Annexes ICAO) dan nasional CASR serta membantu dalam hal pemasaran ke negara-negara sahabat Indonesia melalui Bilateral Airworthines Recognition ataupun Bilateral Airworthiness Agreement.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.