Ditanya soal Stok Beras Nasional, Mentan Jelaskan Siklus Hujan - Kompas.com

Ditanya soal Stok Beras Nasional, Mentan Jelaskan Siklus Hujan

Kompas.com - 12/01/2018, 18:12 WIB
Konferensi pers Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Sumardjo Gatot Irianto di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (3/1/2018).KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTO Konferensi pers Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Sumardjo Gatot Irianto di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (3/1/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman enggan menjelaskan saat ditanya mengenai berapa jumlah stok beras nasional terkini.

Pertanyaan itu disampaikan pewarta ketika menemui Amran di gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (12/1/2018), terkait dengan kebijakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang mengimpor beras untuk menstabilkan harga dan stok di pasar.

"Oktober 2017 kan hujan, umur padi itu tiga bulan, berarti panen itu Januari dan di Februari masuk panen puncak," kata Amran.

Ketika ditanya kembali mengenai stok beras nasional, Amran menjelaskan bahwa dari sisi petani dan jumlah produksi padi selama ini tidak ada masalah berarti. Dia kembali menegaskan bahwa Februari akan memasuki masa panen puncak, dan harapannya produksi padi bisa meningkat.

Baca juga : Impor Beras Sudah Amat Sangat Terlambat...

Mengenai kebijakan Mendag Enggar yang membuka keran impor beras hingga 500.000 ton, disebut Amran tidak mengganggu petani dalam negeri. Hal itu dikarenakan jenis beras yang diimpor adalah beras khusus yang berbeda dengan beras produksi petani di Indonesia.

Menurut Amran, Indonesia telah dua tahun berturut-turut mencukupi kebutuhan beras dalam negeri. Dalam dua tahun tersebut, yaitu 2016 dan 2017, Indonesia juga tidak mengimpor beras serta mencapai swasembada pangan untuk komoditas lain, salah satunya jagung.

Kompas TV Perum Bulog mengguyur beras ke pasar guna meredam harga.


EditorErlangga Djumena
Komentar
Close Ads X