Mendag: PPI Dipilih Sebagai Importir agar Tak Muncul Kasus Beras Oplosan - Kompas.com

Mendag: PPI Dipilih Sebagai Importir agar Tak Muncul Kasus Beras Oplosan

Kompas.com - 12/01/2018, 19:19 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita saat konferensi pers di Gudang Bulog, Kepala Gading, Jakarta.KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTO Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita saat konferensi pers di Gudang Bulog, Kepala Gading, Jakarta.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menugaskan Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) ( PPI) untuk melakukan impor beras. PPI merupakan importir baru yang ditunjuk oleh pemerintah.

Selama ini pemerintah selalu menggunakan jasa Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik ( Bulog) untuk melakukan impor beras.

Menurut Politisi Partai Nasdem, dipilihnya PPI karena saat ini Bulog tengah menghadapi sejumlah persoalan pengoplosan beras jenis medium dari Vietnam dengan beras lokal. Seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan.

"Kenapa tidak Bulog? Supaya jelas. Nanti timbul lagi persoalan, kalau Bulog dioplos dan sebagainya. Dari situ kita masukin di market langsung," kata dia di Kantor Kementerian Perdagangan, Jumat (12/1/2018).

Menteri yang akrab disapa Enggar ini menuturkan, nantinya PPI juga akan mendistribusikan langsung ke pasar-pasar ritel modern atau tradisional.

Dalam pelaksanaan distribusi tersebut Enggar akan tetap mengawasi agar dapat tersalur dengan benar.

"PPI itu menjadi pintu sehingga kita bisa mengatur, mereka bisa bermitra dengan pengusaha beras. Pendistribusiannya mereka pakai downlinernya untuk melakukan pendistribusiannya. Itu mekanisme distribusi yang sudah tercipta. Dia tidak punya jaringan sampai ke pasar. Kita akan awasi," jelas dia.

Meski demikian, beras yang diimpor PPI akan cukup hingga masa panen pada Maret 2018. Hingga kini stok beras Bulog mencapai 900.000 ton.

"Dia (beras impor) pada saat panen nanti, posisi nya sudah ada di sini (Indonesia). Dan dia (PPI) akan penetrate. Karena ini ada di pihak BUMN, maka itu sebabnya ada di BUMN agar saya bisa kendalikan mengenai supply market itu sendiri," tutur dia.


EditorBambang Priyo Jatmiko
Komentar
Close Ads X