Pertamina Lakukan Pengapalan Perdana Minyak Mentah Blok Mahakam

Kompas.com - 12/01/2018, 19:36 WIB
Suasana Tempat Pengolahan Kondensat di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/nz/17 ANTARA FOTO/Akbar Nugroho GumaySuasana Tempat Pengolahan Kondensat di Lapangan Senipah, Peciko dan South Mahakam (SPS) yang merupakan tempat pengolahan minyak dan gas bumi dari Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Rabu (27/12). Pertamina akan mengambil alih pengelolaan Blok Mahakam dari Total E&P Indonesie mulai 1 Januari 2018. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/nz/17
|
EditorErlangga Djumena

BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Pabrik-pabrik pengolahan milik PT Pertamina (Persero) akan mengolah minyak mentah yang diperoleh dari sumur-sumur di Wilayah Kerja (Blok) Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pertamina Integrated Supply Chain (ISC) merupakan pembeli domestik minyak dari blok yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) ini.

PHM mengapalkan 150.000 barrel minyak mentah dari Terminal Senipah ke kapal tanker MT Gede milik Pertamina yang akan membawanya ke pengolahan.

“Hari ini adalah pengapalan (memuat minyak ke tanker) perdana. Tidak ada kendala dan semua berjalan lancar. Kita sudah terbiasa dan bukan hal istimewa. Kita bekerja selalu serius,” kata Anto Sunaryanto, Vice Presiden Well Contruction and Intervention PHM, Kamis (13/1/2018).

Dia mengatakan, pengapalan minyak mentah ini untuk tujuan pengolahan minyak di Renivery Unit V Pertamina di Balikpapan.

Baca juga: Per 1 Januari 2018, Pertamina Resmi Kuasai Blok Mahakam

PHM merupakan anak usaha PT Pertamina Hulu Energi. PHM mengelola blok ini sejak WK Mahakam beralih dari Total E&P Indonesie (TEPI) ke Pertamina pada 1 Januari 2018 lalu.

WK Mahakam, dulunya disebut Blok Mahakam, dikelola TEPI & Inpex selama 50 tahun. Selain minyak, blok ini bahkan menjadi produsen gas bumi terbesar di Indonesia dan menyumbang sekitar 13 persen produksi gas nasional.

Pengapalan perdana dilakukan secara sederhana, mulai dari mengunjungi control room atau pusat kendali seluruh kegiatan di terminal, membuka keran pipa yang mengalirkan minyak mentah ke tanker pada Kamis siang. Serta memajang spanduk bertuliskan “Pengapalan Perdana Minyak Mentah PT PHM” yang terpasang di berbagai sudut area dalam terminal hingga kapal tanker.

“Ini bukan simbol. Ini sebagai bukti bahwa alih kelola sudah berjalan dengan baik,” ucap Anto.

Adapun minyak mentah yang dimuat ke MT Gede adalah Handil Mix Crude, minyak mentah yang diperoleh dari lapangan Handil. Minyak ini merupakan salah satu dari beberapa jenis minyak mentah yang diproduksi PHM.

Selain Handil Mix Crude juga ada Bekapai Crude oil yang diproduksi dari Lapangan Bekapai, Badak Crude Oil dari Lapangan Badak yang dioperasikan Vico Indonesia, Senipah Condensate, dan Bontang Return Condensate.

PHM menargetkan 68 kali pengapalan minyak mentah dari Senipah sepanjang 2018 ini. Selain itu, PHM juga menargetkan 9 kali pengapalan setahun dari Terminal Santan untuk minyak jenis Badak Crude Oil dan Bontang Return Condensate.

Seluruh produksi minyak mentah dan kondensat dari WK Mahakam ini akan dialokasi ke kilang minyak dalam negeri seperti PT Pertamina, RU V Balikpapan, dan RU IV Cilacap. Sedangkan yang dari Bontang dikapalkan ke TPPI Tuban. “Semua didistribusikan ke kilang Pertamina,” kata Anto.

Beberapa jenis minyak dan kondensat disimpan di 6 tangki di Terminal Senipah, termasuk Handil Mix Crude. Dari tangki itu kemudian minyak dialirkan ke kapal tanker milik Pertamina, melalui fasilitas single buoy mooring (SBM), 11 kilometer jauhnya dari bibir pantai. SBM merupakan tempat kapal tertambat sekaligus mengisi muatan.

“Satu jam 18.000 barrel. Kalau 150.000 bisa lebih dari 6 jam,” kata Marhaini, petugas di ruang kontrol Terminal Senipah.

Humas SKK Migas untuk Kalimantan Sulawesi, Damar Setiawan mengharapkan, operasi lifting ini bisa terus berjalan tanpa hambatan. “Kita semua berharap lifting dan shipping akan terus dipertahankan,” kata Damar.

Kompas TV Sepanjang 2016 lalu, Pertamina memperoleh pendapatan lebih dari Rp 487 Triliun.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X