Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bambang P Jatmiko
Editor

Penikmat isu-isu ekonomi

Via Vallen, Nella Kharisma, dan Disrupsi Dangdut Koplo

Kompas.com - 15/01/2018, 07:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorErlangga Djumena

Mereka mencari produk-produk baru dan sejalan dengan trend yang ada. Yakni produk yang kualitasnya lebih baik dan bisa menutup kekurangan dari produk yang sudah ada.

Dalam konteks dunia hiburan kita bisa melihat bagaimana dangdut koplo yang dibawakan oleh Via Vallen dan Nella Kharisma dibawakan dengan santai, tidak vulgar, dan penyanyinya berdandan modis seperti artis-artis Korea. Inilah membuat konsumen hiburan begitu tergila-gila.

Pada saat yang sama, Via Vallen dan Nella Kharisma juga berhasil menggeser artis-artis dangdut incumbent yang lebih dulu mengorbit. Di mana sebagian dari mereka lebih dikenal publik karena berita-berita gosip ketimbang karya yang dibawakan. Ada juga yang terkenal karena penampilannya yang terlalu “mencolok mata”.

Konsumen sebenarnya tetap ingin terhibur. Tapi mereka sudah bosan, capek dan jengah dengan artis-artis dangdut yang lebih suka mengumbar kontroversi. Kehadiran Via Vallen dan Nella Kharisma kemudian menjadi pengobat “dahaga” itu.

Menggunakan saluran digital seperti Youtube, genre musik ini tak hanya meraup pasar yang sudah eksisting, namun juga menciptakan pasar baru.

Kelas menengah yang selera musiknya mungkin tidak begitu jelas, akhirnya masuk dalam daftar penggemar dangdut koplo.

Teman-teman saya yang hobi nonton konser artis-artis luar negeri, belakangan tertarik juga memutar lagu dari Via Vallen dan Nella Kharisma. Bahkan anak-anak juga hapal dengan lirik lagu yang dibawakan Via Vallen dan Nella Kharisma tersebut.

Lagu koplo dari dua penyanyi ini terus direproduksi dengan berbagai versi. Jika ada yang kurang sreg, dibuatlah versi lainnya. Ada yang membuat cover dengan iringan piano, hingga versi reggae. Semakin banyak direproduksi, lagu tersebut makin menjawab kehendak konsumen. Dan hasilnya menjadi luar biasa!

Sektor Lain

Inilah dangdut koplo, yang belakangan ini berhasil mendobrak industri musik Indonesia dengan segenap pembaruannya. Dengan berbagai fenomena yang mengiringi kehadirannya, tak berlebihan kiranya dikatakan bahwa koplo telah melakukan disruption di salah satu sektor industri di Indonesia.

Berbicara mengenai disrupsi,  selain memunculkan pemain-pemain baru, disrupsi juga menimbulkan korban. Korban yang dimaksud adalah pihak-pihak yang ditinggalkan konsumen karena mereka tak melakukan perubahan sama sekali.

Mengutip Rhenald Kasali (2017), disrupsi  terjadi di berbagai bidang kehidupan. Saling kait-mengait, baik pemerintahan, politik, hingga sosial. Hal ini kemudian memunculkan turbulensi. Dan yang berbahaya dari kondisi ini bukanlah turbulensi itu sendiri, melainkan mereka yang bertindak dengan yesterday’s logic.

Mereka yang masih menggunakan pola pikir lama, hampir dipastikan menjadi korban dari disrupsi yang terjadi. Tak hanya di sektor hiburan, namun juga di sektor lainnya.

Di ranah industri yang lebih luas, kita bisa melihat begitu banyak perusahaan yang kelimpungan karena ditinggalkan konsumennya ketika hadir produk baru yang jauh lebih baik dan dengan harga lebih murah.

Seperti yang terjadi pada trend penggunaan transportasi di Jakarta belakangan ini. Mungkin bisa dikatakan saat ini ojek online menjadi pilihan banyak orang ketimbang angkot ataupun ojek pangkalan. Selain praktis dalam hal pemesanannya, ada standard tarif yang dikenakan kepada konsumen.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com