Jokowi Minta Industri Keuangan Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Kompas.com - 19/01/2018, 10:30 WIB
Suasana di salah satu booth di ajang Dell EMC World 2016 yang digelar di Austin Convention Center, Austin, Texas, Amerika Serikat, Kamis (20/10/2016). Virtual reality dan augmented reality telah menjadi penanda zaman menuju revolusi industri berikutnya. KOMPAS.COM/AMIR SODIKIN Suasana di salah satu booth di ajang Dell EMC World 2016 yang digelar di Austin Convention Center, Austin, Texas, Amerika Serikat, Kamis (20/10/2016). Virtual reality dan augmented reality telah menjadi penanda zaman menuju revolusi industri berikutnya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan dunia industri terus berkembang cepat seiring dengan laju perkembangan teknologi informasi saat ini.

Memasuki era industri 4.0 atau era industri yang serba digital membuat berbagai sektor jasa keuangan harus menyesuaikan diri agar tak ketinggalan arus teknologi.

Presiden Joko Widodo ( Jokowi) mengatakan, saat ini dunia telah memasuki era industri keempat atau 4.0.

"Kita juga harus hati-hati. Bahwa kita telah masuk pada revolusi industri 4.0 hati-hati. Basisnya adalah digitalisasi, kedua analisa big data," kata Jokowi saat saat menghadiri Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Hotel Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Baca juga : Menperin : Industri Nasional Harus Bersiap Hadapi Era Industri Baru

Untuk industri keuangan dalam negeri, Presiden menginginkan, industri keuangan bisa beradaptasi terhadap perkembangan industri tersebut yang berbasis pada digital.

Selain industri keuangan, sektor pertanian juga diharapkan siap menghadapi laju teknologi yang semakin besar.

"Industri keuangan juga harus bersiap diri menyongsong revolusi industri keempat. Masuk dunia digital, jejaknya bisa digunakan untuk targeting marketing dan politik. Kemudian bioteknologi yang merupakan rekayasa di bidang agro, bisa rekayasa lahan dan tanah," ungkapnya.

Selain itu, lanjut Presiden, banyak negara yang memiliki lahan yang cenderung kecil tetapi biaa menjadi negara penghasil pangan yang dipertimbangkan dunia.

Baca juga : Ini Strategi Indonesia Masuk Revolusi Industri 4.0

Menurut Presiden hal itu terjadi karena memanfaatkan perkembangan teknologi secara masif.

"Negara dengan lahan sempit bisa menjadi sumber pangan sepeti Belanda. Teknologi fisik sudah merancang memikirkan masa depan," kata Presiden.

Sementara itu, pada industri manufaktur secara garis besar, revolusi industri 4.0 mengintegrasikan dunia online dengan lini produksi di industri, di mana semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, revolusi industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, namun menjadi peluang baru sehingga Indonesia perlu mempersiapkan diri.

Baca juga : Sri Mulyani: Dunia Butuh Revolusi Industri Jilid Dua

"Jadi, kita perlu menginformasikan kepada para pemangku kepentingan bahwa industri 4.0 ini bukan hanya di depan mata, tetapi sudah berjalan. Ke depan, kebijakan industri harus selaras disesuaikan dengan perkembangan teknologi," ujar Airlangga.



EditorAprillia Ika

Close Ads X