Bandara Kulon Progo Disiapkan untuk Pemberangkatan Calon Haji

Kompas.com - 27/01/2018, 13:11 WIB
Lahan bekas kawasan permukiman dan pertanian yang telah dikosongkan untuk pembangunan bandara baru Yogyakarta di Desa Palihan, Temon, Kulon Progo, DI Yogyakarta, terlihat dari udara, Jumat (8/12/2017). Pengosongan lahan yang telah mencapai 97 persen saat ini dihentikan sementara menyusul masih adanya pertentangan dari warga yang menolak untuk pindah dan tetap bertahan di rumah mereka.KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Lahan bekas kawasan permukiman dan pertanian yang telah dikosongkan untuk pembangunan bandara baru Yogyakarta di Desa Palihan, Temon, Kulon Progo, DI Yogyakarta, terlihat dari udara, Jumat (8/12/2017). Pengosongan lahan yang telah mencapai 97 persen saat ini dihentikan sementara menyusul masih adanya pertentangan dari warga yang menolak untuk pindah dan tetap bertahan di rumah mereka.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akan dibangun dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, Bandara Kulon Progo atau NYIA berikut fasilitas penunjangnya dibangun mulai dari April 2018 hingga 2031.

"Pembangunan tahap pertama untuk mengejar target kapasitas rata-rata 15 juta penumpang per tahun," kata Head of Corporate Communication PT Angkasa Pura I Awaluddin saat ditemui di Bandara Internasional Adisutjipto, Jumat (26/1/2018).

Awaluddin menjelaskan, agar target 15 juta penumpang per tahun bisa tercapai, pihaknya turut membangun area terminal pada pembangunan tahap pertama ini seluas 130.000 meter persegi. Juga dengan landasan pacu atau runway yang memiliki panjang 3.250 meter dengan lebar 60 meter.

Pada saat bersamaan, General Manager Bandara Internasional Adisutjipto, Agus Pandu Purnama, mengatakan bahwa keberadaan NYIA dapat mengakomodasi pesawat dari luar negeri, terutama untuk pesawat berbadan lebar (wide body).

Didukung dengan runway yang panjang, maka Bandara Kulon Progo sangat memungkinkan digunakan untuk melayani penerbangan langsung atau direct ke luar negeri.

Saat ini penerbangan langsung rute internasional dari Adisutjipto baru ke Singapura dan Malaysia dengan pesawat yang tidak terlalu besar.

Hal itu terjadi akibat keterbatasan infrastruktur di Adisutjipto, sehingga belum siap untuk melayani penerbangan jarak jauh yang umumnya memakai pesawat berukuran besar.

"(NYIA) nanti bisa untuk berangkat (ibadah) haji dari Yogya langsung menuju Jeddah," tutur Pandu.

Pembangunan New Yogyakarta International Airport tahap kedua dijadwalkan dari tahun 2031 sampai 2041. Terminal yang sudah ada akan diperbesar lagi menjadi 195.000 meter persegi, panjang runway menjadi 3.600 meter, serta target rata-rata penumpang per tahun mencapai 20 juta orang.

NYIA dibangun karena bandara yang ada saat ini, yaitu Adisutjipto, sudah melebihi kapasitas yang seharusnya.

Bandara Adisutjipto dirancang untuk melayani 1,8 juta penumpang per tahun, sementara rata-rata penumpang per tahun kini mencapai 7,8 juta orang.

Lahan di Adisutjipto adalah milik TNI Angkatan Udara, sehingga kegiatan penerbangan sipil atau komersial di sana harus berbagi dengan jadwal penerbangan militer di mana menggunakan runway dan ruang udara yang sama.

Hal itu kerap membuat pesawat yang hendak terbang atau mendarat tertahan dan menyebabkan layanan kepada penumpang jadi tidak maksimal.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLaksono Hari Wiwoho
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X