Harga Gabah di Petani Turun tapi Harga Beras Naik, Apa Kata Menteri Pertanian?

Kompas.com - 29/01/2018, 14:11 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menghadiri panen raya di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/1/2018). Dok. Humas KementanMenteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menghadiri panen raya di Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/1/2018).
|
EditorBambang Priyo Jatmiko

JAKARTA, KOMPAS.com - Memasuki masa panen raya padi pada Februari-Maret 2018 harga gabah di tingkat petani terus alami penurunan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, mengatakan saat ini harga gabah petani terus mengalami penurunan, namun harga beras ditingkat konsumen justru naik.

Menurut Amran, saat ini tengah terjadi penurunan harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sebesar Rp 300 per kilogram. Sementara itu, harga gabah ditingkat petani sudah mengalami penurunan sebesar Rp 800 per kilogram.

"Cipinang turun Rp 300, di lapangan gabah turun Rp 800 per kilogram. Harusnya sebenarnya linier kalau turun Rp 800 di lapangan di kota beras juga turun Rp 800," papar Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (19/1/2018).

Dalam beberapa hari kedepan, Mentan memprediksi harga gabah ditingkat petani akan terus turun seiring dengan datangnya musim panen raya padi di berbagai daerah.

"Kami pastikan besok itu turun, bahkan hari ini di bawah lagi," jelasnya.

Adapun antisipasi pemerintah untuk menjaga harga gabah ditingkat petani tidak terus mengalami penurunan adalah dengan mengoptimalkan peran Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyerap produksi hasil petani.

"Kami harus antisipasi. Bulog antisipasi. Panen raya sampai Mei. Aku produksi Insya Allah lebih dari tahun lalu (81,3 juta ton). Rencana tahun ini diatas 80 juta ton gabah untuk padi," papar Amran.

Sementara itu, Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Wilayah Jawa Tengah Edi Sutrisno mengungkapkan, saat ini sentra padi di wilayah Jawa Tengah (Jateng) sudah memasuki masa panen.

"Di Jateng sudah mulai panen. Kalau harga gabah sekarang  yang dipanen pakai mesin combine harvester itu Rp 5.000 per kilogram, kalau manual Rp 4.500 per kilogram. Kalau sebelumnya yang panen pake combine itu Rp 5.500 sampai Rp 5.800 per kilogram, itu dua pekan lalu," ujarnya melalui sambungan telepon.

Edi mengatakan, penurunan harga gabah kering panen sebesar Rp 800 per kilogram sudah memberatkan kalangan petani. "Rp 800 itu bagi petan itu anjlok," kata Edi.

Menurutnya, dalam memproduksi padi, petani harus menanggung berbagai biaya operasional, mulai dari biaya sewa lahan, hingga tenaga kerja.

"Petani itu tidak ada untungnya.  Karena ada biaya tanah sewa dan biaya sewa tenaga kerja. Tapi petani enggak ada yang putus asa. Pemerintah mikirnya hanya orang yang biasa makan terus takut kelaparan. Tapi kalau petani itu suaranya lemah dan tidak didengarkan," kata Edi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X