Ketergantungan Impor Produk Petrokimia Bikin Industri Hilir Rapuh

Kompas.com - 06/02/2018, 12:13 WIB
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono bersama Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat dan Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Nugroho Christijanto meninjau pembangunan Fasilitas Produksi Amoniak dan Urea (Amorea) II PT Petrokimia Gresik di Gresik, Jawa Timur. Pramdia Arhando JuliantoMenteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono bersama Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Aas Asikin Idat dan Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Nugroho Christijanto meninjau pembangunan Fasilitas Produksi Amoniak dan Urea (Amorea) II PT Petrokimia Gresik di Gresik, Jawa Timur.
|
EditorErlangga Djumena

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembangan industri petrokimia perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Pasalnya sebagai industri strategis sektor ini belum bisa memberikan kontribusi yang optimal.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian ( Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, industri petrokimia merupakan salah satu sektor industri yang strategis yang menyediakan bahan baku untuk seluruh sektor hilir, seperti industri plastik, tekstil, cat, kosmetik hingga farmasi.

Menurut Sigit, Indonesia telah menghasilkan beberapa produk industri petrokimia, namun jumlahnya masih belum memenuhi kebutuhan domestik yang cukup besar.

Misalnya, produk nafta cracker yang saat ini diproduksi nasional sebanyak 900.000 ton per tahun, sementara permintaan dalam negeri 1,6 juta ton. Sementara Singapura sudah memproduksi 3,8 juta ton dan Thailand 5 juta ton per tahun.

Baca juga: Kimia Farma Akan Bangun Rumah Sakit di Mekkah

"Konsekuensinya, angka impor menjadi naik dan mempengaruhi pemasukan dalam negeri. Belum lagi, ketergantungan impor produk petrokimia menyebabkan industri hilir rapuh terhadap dinamika nilai tukar mata uang," paparnya melalui keterangan resmi, Selasa (6/2/2018).

Padahal, dari sisi sumber daya alam Indonesia memiliki potensi cadangan minyak dan gas hingga 7,5 miliar barrel dan 150 triliun cubic feet serta cadangan batu bara 30 miliar ton.

"Sumber daya ini belum digunakan secara optimal dan selama ini hanya diekspor," sebutnya.

Untuk itu, perlunya hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri dan sumber daya saing.

"Kita harus mengubah cara pandang terhadap kekayaan alam domestik, bukan lagi sekedar komoditas perdagangan. Tetapi, harus digunakan sebagai pendukung sektor industri," lanjutnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, saat ini sedikitnya ada tiga perusahaan yang telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pengembangan sektor industri petrokimia di Indonesia.

Pertama, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. selaku industri nasional, akan menggelontorkan dana sebesar 6 miliar dollar AS sampai tahun 2021 dalam rangka peningkatan kapasitas produksi.

Kedua, industri petrokimia asal Korea Selatan, Lotte Chemical Titan akan merealisasikan investasinya sebesar 3-4 miliar dollar AS untuk memproduksi nafta cracker dengan total kapasitas sebanyak 2 juta ton per tahun.

Dan, ketiga, manufaktur besar Thailand, Siam Cement Group (SCG), juga berencana membangun fasilitas produksi nafta cracker senilai 600 juta dollar AS di Cilegon, Banten.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X