Masih Banyak Peluang untuk Perempuan di Industri Kreatif

Kompas.com - 12/02/2018, 20:12 WIB
Penenun kain tradisional dari berbagai daerah di nusantara umumnya perempuan. Dengan menenun, perempuan meningkatkan ekonomi keluarga. FIKRI HIDAYATPenenun kain tradisional dari berbagai daerah di nusantara umumnya perempuan. Dengan menenun, perempuan meningkatkan ekonomi keluarga.

JAKARTA, KOMPAS.com - Peluang untuk perempuan di industri kreatif terbilang masih banyak. Salah satunya, menurut hemat desainer dan pembina industri kreatif Amy Atmanto, para perempuan bisa berkarya di bidang fashion.

Dalam rilis yang diterima Kompas.com kemarin, Amy yang menjadi juri pada pergelaran Festival Toleransi Rakyat oleh Wahid Foundation pada Jumat pekan lalu mengatakan bahwa perempuan dari wilayah perdesaan bisa memulai industri kreatif tersebut.

"Ke depan saya rasa orang di daerah tidak lagi dalam bayangan kita sebagai ibu-ibu yang tertinggal. Mungkin saat ini mereka beginner (pemula) tapi suatu saat mereka akan ke tahap advanced (lanjut)," kata Amy.

Amy yang juga pemilik Rumah Internet Atmanto (Riat) untuk para penyandang disabilitas yang letaknya di kawasan Jakarta Selatan itu memberikan apresiasi kepada para perempuan perdesaan yang ikut ambil bagian pada pertunjukan fashion dan kemampuan berbicara di depan umum itu.

Ia mengatakan bahwa pemenang pertama lomba, Qoriatul Azizah asal Batu, Malang, Jawa Timur, misalnya, mengaku menjahit sendiri busana yang dipakai untuk lomba. "Ini luar biasa," katanya.

Selain juara pertama Qoriatul Azizah asal Batu, Malang, Jawa Timur, lomba fesyen Festival Toleransi Rakyat pada Jumat (9/2/2018) menobatkan empat juara lainnya yakni Maria Sendi asal Malang sebagai juara kedua, Anita Sari asal Malang sebagai juara ketiga, Siti Fatimah asal Malang sebagai juara keempat, dan Galih Nur asal Klaten (Jawa Tengah) sebagai juara kelima.

Perempuan

Catatan terkumpul oleh Kompas.com menunjukkan bahwa dengan jumlah yang cukup besar, kaum perempuan di Indonesia diperhitungkan sebagai penggerak ekonomi modern. Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah pada lamannya depkop.go.id mencatat ada sekitar 46 juta lebih pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dari jumlah itu, 60 persennya adalah perempuan.

Sementara itu, dari laman Kompas.id sebagaimana data pada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2014 adalah Rp 784,82 triliun dan pada 2015 menjadi Rp 852 triliun atau meningkat 8,6 persen.  
 
Sub-sektor kuliner tercatat berkontribusi sebesar 41,69 persen, kemudian fashion sebesar 18,15 persen, dan kriya sebesar 15,70 persen. Selain itu, industri film bertumbuh 10,28 persen, musik 7,26 persen, seni/arsitektur 6,62 persen, dan game tumbuh 6,68 persen.

Tiga negara tujuan ekspor komoditas ekonomi kreatif terbesar pada 2015 adalah Amerika Serikat 31,72 persen, Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen. Walau bertumbuh, memang masih ada yang harus diperhatikan dalam pengembangan ekonomi kreatif. Salah satunya ekosistem bisnis dan investasi, di samping juga infrastruktur penunjang kegiatan.

Karena besarnya potensi ekonomi kreatif, pemerintah tidak ragu untuk memberikan bantuan permodalan. Sektor ini dinilai paling memberi kesempatan kerja kepada anak-anak muda, demikian juga khususnya kaum perempuan.

Ditinjau dari status jender, 62,84 persen tenaga kerja Indonesia pada 2015 adalah laki-laki. Sisanya atau 37,16 persen adalah perempuan. Namun, ekonomi kreatif justru membalik fakta itu. Berdasarkan data Bekraf, perempuan mendominasi ekonomi kreatif, yaitu 53,68 persen. Sisanya sebesar 46,52 persen adalah laki-laki.




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Meningkat di Tengah Pandemi, Kekayaan Global Tembus 400 Triliun Dollar AS

Meningkat di Tengah Pandemi, Kekayaan Global Tembus 400 Triliun Dollar AS

Whats New
Simak Saham-saham yang Bisa Dilirik Tahun 2021

Simak Saham-saham yang Bisa Dilirik Tahun 2021

Earn Smart
2 Dirut BUMN PT PAL Berturut-turut Tersandung Korupsi

2 Dirut BUMN PT PAL Berturut-turut Tersandung Korupsi

Whats New
Ini 3 Masalah Utama yang Harus Diselesaikan agar UMKM Bisa Naik Kelas

Ini 3 Masalah Utama yang Harus Diselesaikan agar UMKM Bisa Naik Kelas

Smartpreneur
Sudah Lewat Masa Kritis, Realisasi Investasi Kuartal III Sentuh Rp 209 Triliun

Sudah Lewat Masa Kritis, Realisasi Investasi Kuartal III Sentuh Rp 209 Triliun

Whats New
Presiden Ingin Ada Solusi atas Kelambanan Pengembangan Industri Turunan Batu Bara

Presiden Ingin Ada Solusi atas Kelambanan Pengembangan Industri Turunan Batu Bara

Whats New
Sri Mulyani: Dari Rp 120,6 Triliun, Realisasi Insentif Pajak di Bawah Rp 30 Triliun

Sri Mulyani: Dari Rp 120,6 Triliun, Realisasi Insentif Pajak di Bawah Rp 30 Triliun

Whats New
Robert Kuok, Bos Hotel Shangri-La yang Jadi Orang Terkaya di Malaysia

Robert Kuok, Bos Hotel Shangri-La yang Jadi Orang Terkaya di Malaysia

Whats New
Skandal Korupsi 1MDB, Inggris Denda Goldman Sachs Rp 1,86 Triliun

Skandal Korupsi 1MDB, Inggris Denda Goldman Sachs Rp 1,86 Triliun

Whats New
Kelistrikan Sulbar dan Sulteng Tersambung, PLN Hemat Rp 137,8 Miliar

Kelistrikan Sulbar dan Sulteng Tersambung, PLN Hemat Rp 137,8 Miliar

Whats New
Sistem Kelistrikan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah Akhirnya Tersambung

Sistem Kelistrikan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah Akhirnya Tersambung

Whats New
Airport Tax Dihapus, AP II: Harga Tiket Pesawat Bisa Lebih Murah

Airport Tax Dihapus, AP II: Harga Tiket Pesawat Bisa Lebih Murah

Whats New
Kolaborasi Lintas Sektoral, Kunci Memaksimalkan Manfaat Kartu Prakerja

Kolaborasi Lintas Sektoral, Kunci Memaksimalkan Manfaat Kartu Prakerja

BrandzView
Pemerintah Wajibkan Kementerian dan Lembaga Belanja Produk UMKM

Pemerintah Wajibkan Kementerian dan Lembaga Belanja Produk UMKM

Whats New
Mau Tukar Valas? Intip Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Mau Tukar Valas? Intip Kurs Rupiah Hari Ini di 5 Bank

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X