Ditopang Komoditas, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Diprediksi Meningkat - Kompas.com

Ditopang Komoditas, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Diprediksi Meningkat

Kompas.com - 15/02/2018, 18:12 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus MartowardojoKOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global bakal meningkat pada tahun 2018 ini. Perkiraan tersebut sejalan dengan kenaikan harga komoditas dunia.

"Peningkatan pertumbuhan ekonomi global bersumber dari perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang lebih kuat dari perkiraan semula," kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Di negara maju seperti Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat ditopang investasi dan konsumsi yang menguat seiring optimisme terhadap reformasi pajak di negari Paman Sam itu.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, suku bunga acuan Fed Fund Rate diperkirakan bakal kembali meningkat disertai dengan penurunan besaran neraca bank sentral untuk merespons ekspektasi inflasi yang akan meningkat di kisaran targetnya.

Baca juga: Sri Mulyani Ajak Swasta Dorong Tingkat Pertumbuhan Ekonomi

Adapun ekonomi Eropa juga diprediksi tumbuh lebih baik, didukung perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif. Pertumbuhan ekonomi Jepang juga direvisi ke atas sejalan dengan perkembangan ekspor yang kuat, implementasi insentif perpajakan untuk perusahaan, dan kebijakan moneter yang masih akomodatif.

"Sementara itu di negara berkembang, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan tetap tumbuh tinggi terutama didorong oleh ekspor seiring peningkatan permintaan, khususnya dari negara maju," jelas Agus.

Ekonomi India pun diproyeksikan mulai pulih seiring hilangnya dampak demonetisasi dan penerapan sistem pajak baru.

"Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia dan harga komoditas global, termasuk minyak, pada 2018," ungkap Agus.

Ia menjelaskan, ada sejumlah risiko yang diwaspadai BI yang dapat memberikan dampak pada stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Risiko tersebut adalah dari sisi eksternal, yakni peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global terkait kenaikan ekspektasi suku bunga acuan AS dan harga minyak dunia. Dari sisi domestik, risiko yang diwaspadai antara lain konsolidasi korporasi yang terus berlanjut dan intermediasi perbankan yang belum kuat.


Komentar
Close Ads X