Bos Mayapada Borong Saham Sentul, Haruskah Investor Ritel Ikut Beli?

Kompas.com - 26/02/2018, 09:49 WIB
Perusahaan patungan tersebut berupa proyek superblok di pusat kawasan bisnis Sentul City, di. Proyek di lahan seluas 7,8 hektar itu memiliki luas bangunan mencapai 500.000 m2. Dok Sentul CityPerusahaan patungan tersebut berupa proyek superblok di pusat kawasan bisnis Sentul City, di. Proyek di lahan seluas 7,8 hektar itu memiliki luas bangunan mencapai 500.000 m2.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dato Sri Tahir, pendiri grup Mayapada, baru saja menyelesaikan transaksi pembelian saham PT Sentul City Tbk (BKSL) dengan nilai Rp 1,17 triliun. Tahir menilai BKSL masih terhitung murah.

Nah, bagaimana dengan para investor ritel? Perlukah ikut membeli saham BKSL?

Direktur Avere Mitra Investama Teguh Hidayat mengatakan, beberapa hal kemungkinan menjadi alasan Tahir mulai melakukan akumulasi pada saham-saham BKSL. Menurut Teguh, hal ini terutama karena Tahir merupakan value investor yang mencoba mengakumulasi saham dengan valuasi yang cukup murah.

Dia menyebut Tahir juga sempat berinvestasi di saham perbankan milik Grup Astra yakni PT Bank Permata Tbk (BNLI). "Ini juga upayanya untuk melakukan diversifikasi," kata Teguh kepada Kontan.co.id, Minggu (25/2/2018).

Menurut dia, kemungkinan Tahir juga berinvestasi di beberapa saham lain yang tak diketahui publik.

Baca juga: Borong Saham Sentul Rp 1,17 Triliun, Ini Alasan Bos Mayapada

Terkait dengan harga belinya di sekitar Rp 300  per saham, Teguh menilai sebenarnya memang masih murah. Bukan berarti bahwa investor ritel yang lain bisa mengikuti jejak Tahir untuk membeli saham properti tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Untuk investor seperti beliau, dia memiliki nafas lebih panjang ketimbang investor ritel sehingga tidak masalah untuk disimpan dalam jangka waktu bahkan hingga 5 tahun," kata Teguh.

Apalagi, nilai investasi dari Tahir ini hingga triliunan.

Sebagai investor beberapa hal perlu dicermati apalagi untuk mulai akumulasi terhadap saham-saham BKSL. Yang pertama terkait kapitalisasi pasar. Apakah kapitalisasi pasar perusahaan tersebut lebih kecil daripada jumlah aset bersih perusahaan. Jika memang lebih kecil, investor bisa saja melakukan akumulasi.

Faktor lainnya adalah prospek. Sentul memiliki prospek yang cukup menarik apalagi dengan perkembangan properti di wilayah Cikarang dan Cibubur yang lebih dahulu berkembang. Sentul memiliki potensi yang menarik untuk usaha properti. Terkait hal ini, Teguh mengatakan investor juga mesti bersabar karena toh selama beberapa tahun, saham BKSL tak begitu banyak bergerak.

Pertimbangan lain dari investor adalah dengan adanya beberapa sentimen yang berasal dari infrastruktur seperti kemungkinan terhambatnya proyek light rail transit (LRT) yang mencatatkan banyak kecelakaan dan juga isu-isu politik terkait dengan infrastruktur. (Kontan/Elisabet Lisa Listiani Putri)

Berita ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul Bos Mayapada akumulasi saham Sentul City, perlukah investor ritel mengekor?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.