Lagarde: Pikirkan tentang Indonesia Pintar...

Kompas.com - 27/02/2018, 13:40 WIB
Sejumlah siswa menunjukan Kartu Indonesia Pintar (KIP) beserta buku rekening tabungan BRI dalam sosialisasi dan percepatan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di SMP Negeri 4, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/8).  Kemendikbud melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama menggelar sosialisasi sekaligus percepatan pencairan dana PIP secara serentak di berbagai kabupaten atau kota di seluruh Indonesia, agar siswa dari keluarga tidak mampu dapat menggunakan manfaat PIP untuk keperluan sekolah secepatnya. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/aww/17. ANTARA FOTO/Yulius Satria WijayaSejumlah siswa menunjukan Kartu Indonesia Pintar (KIP) beserta buku rekening tabungan BRI dalam sosialisasi dan percepatan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) di SMP Negeri 4, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/8). Kemendikbud melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama menggelar sosialisasi sekaligus percepatan pencairan dana PIP secara serentak di berbagai kabupaten atau kota di seluruh Indonesia, agar siswa dari keluarga tidak mampu dapat menggunakan manfaat PIP untuk keperluan sekolah secepatnya. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/aww/17.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dana Moneter Internasional ( IMF) menyoroti pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Namun demikian, agar pertumbuhan ekonomi bisa berkelanjutan, maka model pertumbuhan baru pun harus lebih inklusif.

Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde menyatakan, survei terbaru IMF menemukan bahwa ketika manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dibagi lebih luas, maka pertumbuhan akan lebih kuat, tahan, dan resilien.

"Sebagian besar negara-negara ASEAN berada pada posisi yang relatif kuat, karena mereka telah menggunakan kebijakan-kebijakan yang spesifik untuk membantu menurunkan ketimpangan pendapatan dalam tiga dekade terakhir," ungkap Lagarde dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bertajuk "New Growth Models in a Changing Global Landscape" di Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Lagarde memberi contoh Thailand yang telah memperkenalkan jaring kesehatan semesta pada tahun 2001. Sementara itu, Filipina memperkenalkan bantuan tunai bersyarat pada 2008 dan Indonesia memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah melalui penggunaan uang elektronik berbentuk kartu.

Baca juga: Bos IMF: Dunia Bisa Belajar Gotong Royong dari Indonesia dan ASEAN

Menurut Lagarde, semua negara anggota ASEAN dapat mempertahankan pencapaian ini guna memastikan bahwa generasi berikutnya dapat terjamin masa depannya. Oleh karena itu, mengelola transisi demografi juga menjadi hal yang penting.

"Negara-negara dengan populasi muda yang terus bertumbuh seperti Indonesia dan Malaysia bisa memanfaatkan kesempatan ini, yakni dalam memanfaatkan bonus demografi dengan menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas," sebut Lagarde.

Pada saat yang sama, negara-negara seperti Thailand dan Vietnam bisa mulai mengambil langkah untuk memitigasi dampak populasi menua yang bergerak cepat. Caranya dengan memanfaatkan teknologi untuk mendorong produktivitas tenaga kerja.

Oleh karena itu, pada dasarnya IMF mendorong adanya prioritas dalam berinvestasi pada pembangunan manusia. Di sebagian besar negara ASEAN, ada ruang untuk meningkatkan belanja dalam sektor pendidikan.

"Pikirkan tentang Indonesia Pintar, program yang akan membantu lebih dari 20 juta anak untuk mengenyam pendidikan," tutur Lagarde.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X