Firdaus Putra, HC
Komite Eksekutif ICCI

Ketua Komite Eksekutif Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Sekretaris Umum Asosiasi Neo Koperasi Indonesia (ANKI) dan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)

Anak Muda, Koperasi, dan The Abundance Era

Kompas.com - 06/03/2018, 22:12 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Ide sosial, ide bisnis atau proyek sebesar membuat pesawat R80 pun ditempel di sana. Platform itu membuat masyarakat bisa berpartisipasi memodali suatu ide. Mantranya, kolaborasi!

Koperasi (kredit) kini

Sayangnya, di tengah hirup-pikuk keberlimpahan itu, nyaris koperasi tak terdengar suaranya. Saat beberapa start up secara kreatif beri solusi di sektor pertanian dengan iGrow, iPangan dan aneka platform lainnya, Koperasi Unit Desa (KUD) atau Koperasi Petani (Koptan) masih gunakan cara yang sama. Ya, cara era 80-an.

Orang-orang tua mungkin akan beri khotbah pentingnya belanja di pasar. Namun, anak-anak muda kreatif itu membuat platform belanja pasar lewat ponselnya.

Banyak platform start up lokal di bidang itu yang secara efektif membuat pasar tetap terdengar kumandange, gemuruhnya. Boleh jadi ramalan Ronggowarsito soal itu perlu dikoreksi.

Di luar sana anak muda gemrudug (ramai) mencoba ini-itu. Lagi-lagi, koperasi absen. Seolah-olah hiruk-pikuk itu berada "di luar sana" dan bukannya "di dalam sini".

Di sebuah diskusi grup Whatsapp, saya melempar argumen, boleh jadi karena ekosistem koperasi cenderung tertutup sehingga abai respons perubahan besar itu.

Lantas apakah koperasi kredit (kopdit) yang secara arsitektural kokoh juga mengalami hal yang sama?

Boleh jadi ya, boleh jadi tidak. Sebagian koperasi kredit mulai kembangkan teknologi finansial untuk layani anggota. Yang dulunya offline dan manual sekarang mulai online dan otomatis.

Mengikuti tren perbankan yang go online, respons cepat itu patut diapresiasi. Pasalnya, masyarakat desa pun sekarang sudah akrab dengan ponsel pintar gegara harganya yang murah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.