Berita Populer: Para Pembayar Pajak Terbesar dan Pembobolan Rekening Nasabah BRI - Kompas.com

Berita Populer: Para Pembayar Pajak Terbesar dan Pembobolan Rekening Nasabah BRI

Kompas.com - 15/03/2018, 07:00 WIB
Salah satu nasabah Bank BRI di Kota Mataram menunjukkan buku tabungan.Kontributor Mataram, Karnia Septia Salah satu nasabah Bank BRI di Kota Mataram menunjukkan buku tabungan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembobolan rekening nasabah kembali terjadi di Bank BRI. Bank pemerintah ini seakan tidak kapok untuk segera melakukan perbaikan sistem keamanannya untuk melindungi nasabahnya.

Bank BRI seakan tidak belajar dari kasus hilangnya uang 50 nasabah BRI di Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 2016 lalu. Kejadian serupa kemudian berulang di Kediri, Jawa Timur dimana saldo tabungan 16 nasabah BRI raib misterius.

Mengapa BRI sedemikian rentan? Ternyata salah satu penyebab rentannya sistem keamanan BRI adalah pada mesin ATM. Para penjahat melakukan skimming, atau menggandakan nomor kartu debit nasabah yang melakukan transaksi di ATM BRI.

Baca juga : BRI Ganti Kerugian Dana Nasabah yang Dibobol

Apa itu skimming?

cara pembobol ATM melakukan skimming adalah dengan memasang alat skimming yang memindai data yang terdapat pada pita magnetik atau magnetic stripe pada kartu ATM saat nasabah memasukan ke lubang ATM.

Alat tersebut menyerupai lubang ATM yang asli. Dari data tersebut, pelaku dapat menggadakan nomor kartu debit ke kartu baru.

Caranya adalah dengan melakukan penggandaan kartu baru dengan data magnetik dari kartu korban, baik menggunakan perangkat lunak atau perangkat keras pembaca kartu.

Pelaku juga memasang spy camera di dekat mesin ATM untuk mendapatkan informasi PIN kartu ATM yang korban tekan di pinpad ATM.

Baca juga : Pakar IT Sebut Tabungan Nasabah BRI Dibobol dengan Skimming

 

Dengan dua kombinasi tersebut, pelaku selanjutnya dapat menggunakan kartu duplikat tersebut untuk mencairkan dananya di mesin atm atau menggunakannya sebagai kartu debit.

Jika pelaku melakukan penarikan dana dari luar negeri, akan terlihat dari nominal penarikan yang tidak bulat serta dikenakan biaya administrasi pertukaran kurs.

Pastinya, pelaku kejahatan skimming ini bukan pelaku perorangan namun penjahat yang terorganisir hingga luar negeri.

Masalah peretasan dana nasabah ini seharusnya tidak hanya menjadikan BRI aware, namun pihak terkait seperti kepolisian.

Baca juga : Lupa Password Saat Ingin Laporkan SPT di E-Filing, Ini Solusinya

Selain berita mengenai hilangnya dana nasabah BRI, berita mengenai 31 daftar pembayar pajak terbesar se-Indonesia juga disorot oleh pembaca kanal ekonomi Kompas.com.

Berikut lima berita populer di kanal ekonomi Kompas.com pada Rabu (14/3/2018) yang bisa Anda simak kembali pagi ini.

1. Daftar 24 Perusahaan dan 7 Orang Pembayar Pajak Terbesar Se-Indonesia

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan ( DJP) atau Ditjen Pajak memberikan apresiasi kepada 31 perusahaan dan perorangan yang menjadi pembayar pajak terbesar sepanjang 2017 pada Selasa (13/3/2018).

Para pembayar pajak terbesar tersebut berasal dari Kantor pelayanan Pajak (KPP) Wajib Pajak Besar di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Pajak Wajib Pajak Besar.

Baca juga : Daftar 24 Perusahaan dan 7 Orang Pembayar Pajak Terbesar Se-Indonesia

2. Rupiah Diramal Melemah hingga Rp 15.000 Per Dollar AS, Ini Komentar Gubernur BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo angkat bicara menyusul pernyataan dari Lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) menyangkut nasib mata uang rupiah.

Mengutip Kontan.co.id, Rabu (14/3/2018), S&P memprediksi rupiah berpotensi melemah ke level Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS).

“Karena selama ini BI bisa menjaga stabilitas rupiah tetap mencerminkan fundamental ekonomi kita dan selama ini ada di kisaran seperti sekarang Rp 13.750,” ujarnya saat ditemui di gedung Kementerian Keuangan, Selasa (13/3/2018).

Baca juga : Rupiah Diramal Melemah hingga Rp 15.000 Per Dollar AS, Ini Komentar Gubernur BI

3. Pembobolan Rekening juga Dialami Nasabah BRI di Jakarta 

Kasus hilangnya saldo rekening nasabah BRI secara tiba-tiba tidak hanya dialami oleh nasabah di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Mereka yang di Jakarta pun ternyata mengalami hal serupa, saldo rekeningnya hilang begitu saja, baru-baru ini.

"Tanggal 17 Februari kemarin tahu-tahu saya dapat SMS notifikasi debet dari BRI, padahal saya enggak ada transaksi apa-apa. Ada tiga SMS yang saya terima," kata Yuni Rismelia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (14/3/2018).

Yuni merupakan nasabah BRI di salah satu kantor cabang di Jakarta Pusat. Setelah menerima SMS tersebut, Yuni mengecek saldo di rekeningnya dan ternyata memang berkurang sejumlah nominal yang tertera di SMS notifikasi.

Baca juga : Pembobolan Rekening juga Dialami Nasabah BRI di Jakarta

4. Tak Perlu Panik, Ini 4 Tips Transaksi Aman dari BRI 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengimbau kepada nasabah agar senantiasa mewaspadai tindakan kejahatan perbankan dengan metode skimming. Metode ini adalah pencurian data nasabah pada kartu debit dengan memasang alat skimmer pada mesin ATM.

Dengan kejadian pembobolan dana sejumlah nasabah di Kediri, Jawa Timur, Direktur BRI Indra Utoyo menyatakan, nasabah tidak perlu panik. Selain itu, nasabah pun diminta untuk ikut mencegah terjadinya tindak kejahatan dengan metode skimming.

Baca juga : Tak Perlu Panik, Ini 4 Tips Transaksi Aman dari BRI

5. Jumlah Trader Bitcoin Segera Lampaui Jumlah Investor di BEI

Platform jual beli mata uang digital Bitcoin.co,id segera memiliki 1,5 juta pengguna dalam waktu dekat, atau melampaui jumlah investor di Bursa Efek Indonesia ( BEI) yang saat ini mencapai 1,18 juta investor.

Hal itu dikatakan Chief Executive Officer Bitcoin.co.id Oscar Darmawan, seperti dikutip dari Bloomberg. Platform Bitcoin.co.id sendiri mulai dibuka pada 2014 silam dan saat ini memiliki 1,14 juta investor.

Dalam Bitcoin.co.id tidak hanya memperdagangkan mata uang digital bitcoin saja, tetapi juga mata uang digital lain seperti ethereum dan ripple.

 Baca juga : Jumlah Trader Bitcoin Segera Lampaui Jumlah Investor di BEI


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X