Menperin Tegaskan Impor Garam untuk Kebutuhan Bahan Baku Industri

Kompas.com - 19/03/2018, 09:40 WIB
Petani garam di Pamekasan Madura beberapa waktu lalu. KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANPetani garam di Pamekasan Madura beberapa waktu lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, dalam rantai produksi industri, garam merupakan salah satu bahan baku pokok yang dibutuhkan untuk menunjang keberlanjutan produksinya.

Airlangga mengungkapkan, beberapa manufaktur yang mengkonsumsi garam industri merupakan sektor andalan dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap banyak tenaga kerja sehingga perlu dijaga ketersediaan bahan bakunya.

"Garam sebagai komoditas strategis, juga dapat mendukung rantai pasok dan meningkatkan nilai tambah sejumlah industri dalam negeri. Jadi, sama pentingnya dengan bahan baku lainnya seperti baja dan produk petrokimia," ujar Menperin melalui keterangan resmi, Senin (19/3/2018).

Menurut Menperin, sektor manufaktur yang membutuhkan garam industri sebagai bahan bakunya tersebut, telah beroperasi cukup lama di Indonesia.

Baca juga: Izin Impor Garam Diteken Presiden Jokowi

Dengan demikian, pemerintah terus mendorong kontinuitas produksi industri nasional, karena berdampak pada lapangan pekerjaan, pemenuhan untuk pasar domestik, serta penerimaan negara dari ekspor.

"Jadi, pemerintah mengimpor garam untuk kebutuhan bahan baku industri-industri. Sedangkan untuk garam konsumsi, masih akan dipenuhi oleh industri garam nasional," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman menyampaikan, industri makanan dan minuman membutuhkan setidaknya 550.000 ton garam sebagai bahan baku setiap tahunnya.

Angka tersebut naik sekitar 22 persen dibandingkan kebutuhan tahun lalu yang hanya 450.000 ton. Hal ini seiring dengan peningkatan investasi dan ekspansi di sektor industri makanan dan minuman.

Merujuk data Kemenperin, kebutuhan garam industri nasional tahun 2018 sekitar 3,7 juta ton. Bahan baku ini akan disalurkan kepada industri Chlor Alkali Plant (CAP), untuk memenuhi permintaan industri kertas dan petrokimia sebesar 2.488.500 ton.

Selain itu, bahan baku garam juga didistribusikan kepada industri farmasi dan kosmetik sebesar 6.846 ton serta industri aneka pangan 535.000 ton.

Sisanya, kebutuhan bahan baku garam sebanyak 740.000 ton untuk sejumlah industri, seperti industri pengasinan ikan, industri penyamakan kulit, industri pakan ternak, industri tekstil dan resin, industri pengeboran minyak, serta industri sabun dan detergen.

Sebelumnya, pemerintah memutuskan impor garam pada tahun ini dilaksanakan secara bertahap.

Keputusan ini diambil bersamaan dengan kesepakatan terkait jumlah garam industri yang diimpor serta teknis pelaksanaannya dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Jumat (19/1/2018).

"Kami memutuskan, 3,7 juta ton jumlahnya (impor garam industri). Itu enggak sekaligus datangnya, bertahap," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Kompas TV Izin impor garam kini langsung berasal dari Kementerian Perdagangan atas permintaan Kementrian Perindustrian.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Bedanya Produk Eucalyptus Kementan dengan yang di Pasaran?

Apa Bedanya Produk Eucalyptus Kementan dengan yang di Pasaran?

Whats New
Garuda, Lion Air, dan Sriwijaya Air PHK Pegawai, Mengapa?

Garuda, Lion Air, dan Sriwijaya Air PHK Pegawai, Mengapa?

Whats New
Menteri Edhy: Saya Tidak Peduli Akan Di-bully seperti Apa...

Menteri Edhy: Saya Tidak Peduli Akan Di-bully seperti Apa...

Whats New
Pizza Hut di AS Dinyatakan Pailit,  Bagaimana di Indonesia ?

Pizza Hut di AS Dinyatakan Pailit, Bagaimana di Indonesia ?

Whats New
Menpan RB Curhat soal Sulitnya Pangkas PNS yang Tak Produktif

Menpan RB Curhat soal Sulitnya Pangkas PNS yang Tak Produktif

Whats New
Ada Politisi Gerindra di Balik Eksportir Benur, Menteri Edhy: Tidak Masalah, Saya Siap Dikritik

Ada Politisi Gerindra di Balik Eksportir Benur, Menteri Edhy: Tidak Masalah, Saya Siap Dikritik

Whats New
Pasarkan Produk Eucalyptus, Kementan Jajaki Kerja Sama dengan Jepang dan Rusia

Pasarkan Produk Eucalyptus, Kementan Jajaki Kerja Sama dengan Jepang dan Rusia

Whats New
Percepat Realisasi Anggaran Pemerintah di Semester II akan Dorong Ekonomi RI

Percepat Realisasi Anggaran Pemerintah di Semester II akan Dorong Ekonomi RI

Whats New
Kata Edhy Prabowo, Ini Sederet Manfaat Legalkan Alat Tangkap Cantrang

Kata Edhy Prabowo, Ini Sederet Manfaat Legalkan Alat Tangkap Cantrang

Whats New
Kadin Ramal Ekonomi Kuartal II Terkontraksi 6 Persen, Ini Penyebabnya

Kadin Ramal Ekonomi Kuartal II Terkontraksi 6 Persen, Ini Penyebabnya

Whats New
Tokopedia Laporkan Oknum yang Jual 91 Juta Data Pelanggannya ke Polisi

Tokopedia Laporkan Oknum yang Jual 91 Juta Data Pelanggannya ke Polisi

Whats New
 BCA Pertahankan Posisi Pertama untuk Indonesia’s Most Valuable Brand

BCA Pertahankan Posisi Pertama untuk Indonesia’s Most Valuable Brand

Whats New
Penumpang KRL Membeludak, PT KCI Minta Pengusaha Atur Jam Kerja Karyawannya

Penumpang KRL Membeludak, PT KCI Minta Pengusaha Atur Jam Kerja Karyawannya

Whats New
Perusahaan Asal Jepang Ini Bakal Terapkan WFH Secara Permanen

Perusahaan Asal Jepang Ini Bakal Terapkan WFH Secara Permanen

Work Smart
Inhaler dan Roll On Eucalyptus akan Dipasarkan Akhir Juli 2020

Inhaler dan Roll On Eucalyptus akan Dipasarkan Akhir Juli 2020

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X