Potensi Industri Game Indonesia Rp 11 Triliun, Tapi Belum Tergarap

Kompas.com - 21/03/2018, 06:15 WIB
(tengah) Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak meresmikan pembukaan booth Indonesia di Game Connection America 2018 bersama perwakilan AGI Cipto Adiguno dan perwakikan Game Connection, di AT&T Park, San Francisco, AS, Senin (19/3/2018) KOMPAS.com/Yoga Hastyadi Widiartanto(tengah) Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak meresmikan pembukaan booth Indonesia di Game Connection America 2018 bersama perwakilan AGI Cipto Adiguno dan perwakikan Game Connection, di AT&T Park, San Francisco, AS, Senin (19/3/2018)

SAN FRANCISCO, KOMPAS.com - Industri game, sebagai salah satu bagian dari ekonomi kreatif Indonesia, memiliki potensi besar yang masih belum tergarap dengan baik. Diperlukan kerjasama berbagai pihak untuk menumbuhkan ekosistemnya sehingga nilainya bisa tumbuh besar.

Deputi Akses Permodalam Asosiasi Games Indonesia (AGI), Cipto Adiguno mengatakan, dari survei yang dilakukan pada 2017 lalu, tercatat bahwa nilai industri game Tanah Air mencapai kisaran 800 juta dollar AS atau sekitar Rp 11 triliun.

"Pertumbuhan nilai itu rata-rata 25 persen sampai 30 persen setahun. Jadi dalam 3 tahun saja bisa dibayangkan, kalau tumbuhnya terus ikut nilai rata-rata bisa gede banget, bisa Rp 24 triliun," ujar Cipto saat bincang dengan Kompas.com di AT&T Park, San Francisco, Amerika Serikat, Selasa (20/3/2018).

"Potensinya besar, tapi belum tergarap karena ekosistem industrinya belum terbentuk. Belum ada bisnisnya," imbuhnya.

Menurut Cipto, salah satu halangan bagi perkembangan industri ada pada cara pandang. Game di Indonesia hanya dipandang sebagai permainan belaka, bukan suatu bisnis yang bisa tumbuh menjadi industri dan menyejahterakan banyak orang.

Dengan demikian meski Indonesia memiliki ahli pemrograman berkualitas, mereka tidak melihat game sebagai profesi yang bisa menopang masa depan. Kemampuan pemrograman itu pun jadi hanya diarahkan ke perusahaan teknologi saja, seperti e-commerce dan platform.

"Developer game kita malah banyak yang cari lowongan ke Malaysia atau Singapura, karena di sana pekerjaan itu bisa memberi penghidupan," ujarnya.

Di sisi lain, Cipto juga melihat bahwa perspektif tersebut akan bisa dikikis seiring dengan tumbuhnya perusahaan-perusahaan game besar di Tanah Air, salah satunya Agate.

Keberadaan perusahaan game seperti itu akan membuat profesi pengembang game lebih terlihat dan memiliki masa depan.

Deputi Pemasaran Badan Ekonomi Kreatif ( Bekraf), Josua Puji Mulia Simanjuntak mengatakan instansinya juga turut memberi dukungan untuk mengubah perspektif masyarakat mengenai pengembang game.

Beberapa di antaranya dengan cara membawa developer lokal untuk tampil di ajang internasional seperti Game Connection America 2018, serta mengadakan Bekraf Developer Day.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X