Indef: Utang Luar Negeri Pemerintah Naik Terus dan Tak Produktif - Kompas.com

Indef: Utang Luar Negeri Pemerintah Naik Terus dan Tak Produktif

Kompas.com - 21/03/2018, 16:44 WIB
Diskusi Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) terkait Utang Luar Negeri Indonesia bersama media di Kantor INDEF, Jakarta, Rabu (21/3/2018).KOMPAS.com/ PRAMDIA ARHANDO JULIANTO Diskusi Institute for Development for Economics and Finance (INDEF) terkait Utang Luar Negeri Indonesia bersama media di Kantor INDEF, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Institute For Development of Economics and Finance ( Indef), Ahmad Heri Firdaus mengatakan, utang luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah belum menunjukan tren produktivitas, meskipun dalam tiga tahun terakhir utang luar negeri terus meningkat.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Utang Luar Negeri Indonesia pada akhir Januari 2018 meningkat 10,3 persen (yoy) menjadi 357,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.915 triliun (kurs Rp 13.750 per dollar AS).

Adapun rinciannya adalah 183,4 miliar dollar AS atau setara Rp 2.521 triliun utang pemerintah dan 174,2 miliar dollar AS atau setara Rp 2.394 triliun utang swasta.

"Berbagai survei tentang ekspektasi ekonomi tidak mengalami akselerasi pertumbuhan. Akibatnya pertumbuhan ekonomi tidak beranjak dari lima persen," ujar Heri saat diskusi dengan media di Kantor Indef, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Baca juga : Bangun Infrastuktur Pakai Utang dari China, Negara-Negara Ini Malah Bangkrut

Menurut Heri, alasan pemerintah menggunakan utang untuk pembangunan sektor infrastruktur juga tak membuahkan hasil yang maksimal, salah satunya sektor padat karya.

"Efektivitas utang untuk meningkatkan produktivitas perekonomian tidak kunjung terlihat sampai sekarang. Setidaknya, harus ada sektor yang produktivitasnya meningkat seperti sektor yang bisa meningkatkan nilai tambah, tenaga kerja, dan sebagainya," ucap Heri.

Kendati demikian, pihaknya mengakui dampak pembangunan infrastruktur memang akan terlihat dalam jangka panjang, hanya saja saat ini pembangunan infrastruktur yang terlihat masif belum direspons secara positif oleh pelaku usaha.

"Meskipun infrastruktur dibangun, tapi dunia usaha tidak yakin terhadap perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Terlihat dari tendensi bisnisnya yang menurun," ujarnya.

Kompas TV BI masih mengkategorikan utang Indonesia dalam posisi aman.



Close Ads X