Indonesia Tak Perlu Khawatir Hadapi Siklus Krisis Ekonomi 10 Tahunan

Kompas.com - 21/03/2018, 18:49 WIB
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/7/2017). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaDirektur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/7/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, Indonesia cenderung aman menghadapi siklus 10 tahunan krisis ekonomi yang pernah terjadi.

"Kalau kita lihat indikator-indikator dari kinerja sektor keuangan, terutama perbankan, relatif sehat. Apakah potensi krisis di sektor keuangan ada? Kami hampir yakin menjawab, relatif tidak mengkhawatirkan," ujar Enny saat diskusi dengan media di Kantor INDEF, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Dengan itu, pihaknya menilai potensi terjadinya krisis ekonomi yang terjadi pada tahun ini sangat minim. "Jadi besar kemungkinan apa potensi krisis di 2018 kita hampir yakin relatif tidak mengkhawatirkan," papar Enny.

Baca juga : Menurut Boediono, Ini Lima Pelajaran Menghadapi Krisis Ekonomi

Akan tetapi, dirinya mengingatkan, pada 2011 silam negara-negara seperti Portugal, Italia, Irlandia, Spanyol dan Yunani menghadapi krisis yang disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam mengelola fiskal.

Hal ini dinilai sangat mirip dengan yang terjadi di Indonesia, dimana Indonesia menghadapi risiko fiskal yang disebabkan oleh utang.

"Indikasi yang terjadi di Yunani, Portugal kok beberapa variabel dan indikator mirip dengan kita (Indonesia). Artinya kami tidak ingin membuat ini menjadi kekhawatiran apalagi di tahun politik, tapi kita harus aware bahwa persoalan utang luar negeri kita ini dinyatakan aman atau tidak aman, tidak hanya sekadar rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB)," paparnya.

Baca juga : 20 Tahun Setelah Krisis Finansial, Asia Lebih Tahan Banting

Sementara itu, terjadinya krisis di Indonesia pada tahun 1998 dan 2008 lebih dipengaruhi fundamental ekonomi Indonesia yang cenderung tidak siap mengantisipasi krisis yang terjadi.

"Kalau dilihat dari krisis yang kita alami, mungkin lebih banyak dari sektor keuangan. Dan kalau kita review dan bandingkan sumber krisis di 1998, 2008 ini kan transmisinya terlalu kuat ke ekonomi kita karena fundamental keuangan kita rapuh," jelasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X