Program Simantri Jadi Andalan Kabupaten Manggarai untuk Petani

Kompas.com - 21/03/2018, 21:12 WIB
Ilustrasi KOMPAS/AMANDA PUTRIIlustrasi

KOMPAS.com - Program Sistem Manajemen Pertanian Terintegrasi (Simantri) yang digagas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjadi andalan Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meningkatkan pendapatan petani.

Menurut rilis yang diterima Kompas.com hari ini, pihak-pihak yang terlibat Program Simantri di Kecamatan Manggarai, antara lain, Dinas Perternakan berupa penyediaan hewan ternak untuk 12 kelompok sasaran, Dinas Pertanian berupa penyediaan bibit 14 jenis tanaman, pupuk dan pendampingan, Dinas PUPR menyediakan infrastruktur dan pengembangan jaringan irigasi, dan Dinas Perdagangan yang membantu dari sisi pascapanen dan pemasaran.

Sementara, menurut Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu Johozua M. Yoltuwu yang bertandang ke Manggarai hari ini, dalam upaya mengentaskan minimal 80 Kabupaten Tertinggal (KT) pada akhir RPJMN 2015-2019, pihaknya fokus pada 50 Kabupaten Tertinggal yang merupakan wilayah perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, rawan bencana, rawan pangan, serta pasca-konflik.

"Tahun ini, untuk mendukung pengentasan desa-desa tertinggal dan mengupayakan desa maju dan mandiri, kami menyasar 16 Kabupaten Prioritas Terintegrasi (KPT) yang merupakan bagian dari Daerah Tertinggal,” kata Johozua.

Lebih lanjut, Johozua menjelaskan, dari 16 kabupaten prioritas terintegrasi ini, dipilih empat kabupaten sebagai pilot project permodelan yaitu Kabupaten Aceh Singkil, Lombok Timur, Manggarai, dan Maluku Tenggara Barat. Hasil dari piloting tersebut akan diadopsi oleh 12 Kabupaten Prioritas lainnya sesuai dengan karakteristik potensi, kebutuhan, dan permasalahan daerah masing-masing.

Bupati Manggarai, Deno Kamelus, pada kesempatan yang sama menjelaskan, Simantri merupakan suatu program integrasi beberapa perangkat daerah untuk meningkatkan luas tanam hortikultura, populasi ternak, kualitas, dan kontinuitas tanaman hortikultura. Selain itu,  program ini diharapkan dapat memastikan hasil tanaman hortikultura berkualitas sepanjang tahun yang berorientasi pada kebutuhan pasar.

“Sejak 2017, telah terbentuk 12 kelompok yang beranggotakan sekitar 400 orang, dengan total luas lahan mencapai 50 hektar, dan produksi hortikultura mencapai 319.939 kilogram,” pungkas Deno Kamelus.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X